SENSITIFITAS atau kepekaan yang tinggi seseorang terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan keadaban: empati, simpati, dan kasih sayang (welas asih) akan mendorong dirinya untuk berbuat. Terlebih kepekaan itu yang dilandasi religiusitas (baca: iman dan taqwa).
Saat ini di Indramayu, sedang ada gerakan yang lahir dari sensitifitas atau kepekaan tersebut. Gerakan yang dimaksud yaitu Belanja di Warung Tetangga (BWT) dan Berbagi kepada Sesama (BKS) dalam momentum Jum’at Berkah.
Baik BWT maupun BKS merupakan gagasan cerdas Bupati Indramayu Nina Agustina yang dilandasi iman dan taqwa. Gagasan ini lahir dari sensitifitasnya sebagai seorang pemimpin. Ia merasa simpati, empati, dan welas asih kepada masyarakat yang dipimpinnya.
Bupati Nina menyadari dari 1.737.624 rakyatnya (sumber indramayukab.go.id/statistik penduduk Indramayu tahun 2020), masih banyak yang belum sejahtera. Mereka perlu mendapat dukungan, bantuan, dan uluran tangan dari masyarakat yang lebih mampu, khususnya kalangan ASN.
Program BWT misalnya, selain untuk memaksimalkan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang menjadi program nasional, sejatinya ini adalah gerakan ikhtiar di tingkat bawah untuk menghidupkan ekonomi kecil, ekonomi tetangga.
Melalui Gerakan BWT ini seluruh ASN diinstruksikan dalam hal untuk mencukupi kebutuhan pokok sehari-harinya agar belanja di warung tetangga. Belasan ribu ASN Indramayu akan menjadi kekuatan besar dalam mengungkit ekonomi di lingkungannya (tetangga).
Betapa tidak, jika semua ASN membiasakan belanja di warung tetangga maka uang yang nilainya bisa mencapai puluhan miliar setiap bulannya itu akan berputar dan mengungkit ekonomi kecil (warung tetangga).
Ungkitan ekonomi kecil ini kemudian akan memberikan multiplayer efek pada perekonomian daerah, regional, dan nasional. Karenanya, sudah sepatutnya instruksi Bupati Nina Agustina ini dipatuhi para ASN.
Sedangkan gerakan BKS pada setiap hari Jum’at menyasar kaum dhuafa yang berada di sekitar ASN berkantor. Gerakan berbagi makanan (khususnya nasi untuk sarapan) ini sangat riil menolong mereka, setidaknya untuk memenuhi sarapan pagi itu.
Pengaruh ajakan BKS dalam momen Jum’at Berkah dari Bupati Nina Agustina akan sangat kuat. Powernya sebagai Bupati tentu ‘memaksa’ para ASN patuh. Karenanya BKS akan menjadi kekuatan yang sangat besar dan memiliki kontribusi dalam mengentaskan kesulitan masyarakat kecil.
Itulah hebatnya ketika penguasa ber-fastabiqul khairat. Ajakannya untuk berbuat kebaikan akan jauh lebih dipatuhi dari pada ajakan dari ulama sekalipun. Berutunglah Indramayu dipimpin seorang Bupati yang memiliki sensitifitas atau kepekaan tinggi terhadap rakyatnya.
Fastabiqul khairat sendiri termasuk ciri dari orang yang beriman dan merupakan salah satu amalan yang dianjurkan Islam. Amalan inilah yang akan memberatkan timbangan kebaikan di akhirat. Karenanya Gerakan BWT dan BKS dari Bupati Nina sejatinya mengajak kita menanam pahala yang akan dipanen di akhirat kelak.
“Dan setiap umat mempunyai kiblat yang menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Alloh akan mengumpukan kamu semuanya. Sungguh Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Al Baqarah: 148) (wawan idris)