Bulog menarik, karena lembaga negara inilah yang ditugasi untuk mengelola komoditas pangan utama, yaitu beras. Semua orang tahu, beras adalah komoditas politis dan strategis.
Bulog sendiri, kini tidak lagi bermakna Badan Urusan Logistik. Kata Bulog lebih dipahami sebagai ikon sebuah perusahaan negara. Hal ini identik dengan BNI. Sebagai salah satu bank pemerintah, BNI tidak lagi memiliki arti sebagai Bank Nasional Indonesia, tapi BNI hanya sebuah ikon perusahaan.
Itu sebabnya, keberadaan Bulog tidak lagi berfungsi sebagai “alat negara” yang harus membela kepentingan masyarakat. Bulog hari ini berperan sebagai BUMN.
Sebagai BUMN, Bulog tentu harus terikat dengan aturan sebuah perusahaan. Bulog tidak boleh merugi. Bulog harus untung. Padahal, resiko sebuah BUMN, Bulog dituntut untuk mengemban dua fungsi secara bersamaan.