MHNEWS.id.- Dukungan sekaligus andil Kabupaten Indramayu dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional semakin nyata dengan adanya program revitalisasi tambak.
Program yang diluncurkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama Pemerintah Kabupaten Indramayu ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan nelayan lokal dan perekonomian daerah.
Lebih dari itu program tersebut juga dapat berkontribusi pada ketahanan pangan nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor.
“Dengan produksi nila salin yang melimpah, diharapkan dapat memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakat dan mengurangi ketergantungan pada impor,” ujar Pjs. Bupati Indramayu, Dr. Dedi Taufik, M.Si. di pendopo belum lama ini.
“Keberhasilan program ini tidak terlepas dari peran serta seluruh stakeholder, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, perguruan tinggi, hingga kelompok nelayan dan para pembudidaya,” sambung Dedi Taufik.
Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Indramayu, Edi Umaedi mengatakan, dari lahan tambak seluas 22.000 hektar yang ada di Kabupaten Indramayu target yang akan dijadikan sebagai budidaya nila salin suas 18.000 yang akan direvitalisasi selama 3 tahun secara bertahap.
“Data tambak yang sudah kita serahkan seluas 1.500 hektar. Sudah lengkap dengan lokasi dan namanya. Dalam satu minggu ini kita maraton untuk selesaikan 1.500 hektar lagi. Sehingga kita siap dengan 3.000 hektar,” kata Edi.
Edi menambahkan, untuk sementara kecamatan yang akan dilakukan revitalisasi budidaya nila sari berada di Pasekan, Sindang, Indramayu, Losarang, dan Kandanghaur.
Direktur Direktur Ikan Air Laut Tinggal Hermawan menjelaskan, revitalisasi tambak ini tidak hanya sekadar mengubah fungsi lahan, tetapi juga melibatkan berbagai aspek, seperti penyediaan sarana dan prasarana pendukung, pelatihan bagi nelayan, serta pengembangan pasar.
Pengembangan nila salin ini merupakan revitalisasi terhadap tambak-tambak yang sebelumnya digunakan untuk budidaya udang.
Diungkapkan, udang yang berada di pesisir utara Pulau Jawa saat ini mengalami penurunan kualitas, sehingga harus dilakukan alih budidaya dari udang ke nila salin.
“Kami berharap program ini dapat menjadi solusi bagi permasalahan yang dihadapi nelayan Indramayu, seperti penurunan hasil tangkapan dan harga jual yang tidak stabil,” ujar Hermawan.
Penulis : Daniswara
Editor : Wawan Idris