27.8 C
Indramayu
Rabu, Januari 28, 2026


Lepaskan Ketergantungan pada Cuaca, Petani Garam Gunakan Tunel Transparan

MHNEWS.ID.- Musim hujan merupakan ‘musuh’ utama bagi para petani garam tradisional nasional, tak terkecuali di Desa Cemara Kulon, Kecamatan Losarang, Indramayu.

Disebut sebagai ‘musuh’ utama, karena selama musim hujan para petani tidak bisa maksimal memproduksi garam. Selama musim hujan mayoritas petani bahkan menghentikan kegiatan.

- Advertisement -

Ketergantungan petani garam terhadap cuaca memang sangat kuat. Saat musim hujan produksi petani bisa anjlok pada titik yang paling rendah.

Namun, pada saat itu pula harga garam melonjak sangat tinggi. Ini terjadi karena terbatasnya produksi sementara permintaan justru mengalami kenaikan yang signifikan.

Sebaliknya, pada musim panas (kemarau) produksi garam melimpah ruah. Kualitas garam pun relatif lebih baik. Akan tetapi sebagaimana hukum ekonomi, saat produksi melimpah harga garam pun murah.

Mengatasi kendala alam seperti ini Dirjen Pengelolaan Kelautan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berikhtiar dengan menerapkan teknologi evaporasi modern.

Aplikasi dari teknologi evaporasi ini adalah pembuatan tunel garam atau terowongan pada lahan tambak.

Meskipun masih dalam tahap uji coba, tunel garam ini diyakini bisa menjadi solusi untuk para petani garam secara nasional, khususnya di Desa Cemara Kulon, Kecamatan Losarang.

Baca Juga :  Ponpes Assalafiyah Ciptakan Teknologi Plastik Geomembrane, Hasilkan Garam Kualitas Wahid Bernilai Jual Selangit

Bentuk tunel sendiri menyerupai terowongan transparan sehingga saat musim hujan seperti sekarang ini, petani garam bisa tetap berproduksi.

Camat Losarang, Encep Ria Setiadi, mengatakan, tunel garam ini merupakan teknologi evaporasi modern bantuan dari Dirjen Pengelolaan Kelautan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

“Desa Cemara Kulon menjadi salah satu pilot project penerapan teknologi evaporasi pergaraman,” kata Encep di lokasi, Sabtu (24/1/2026) sebagaimana dikutip Kompas.com.

Encep mengatakan, berkat teknologi ini, bertani garam kini tak harus bergantung pada musim. Musim hujan tak lagi menjadi kendala bagi para petani dalam memproduksi garam.

Kualitas garam semakin baik

Dijelaskan Camat Encep, saat ini teknologi tersebut masih dalam tahap uji coba dan tengah diteliti lebih lanjut oleh Tim Politeknik Kelautan dan Perikanan Karawang.

Namun, Encep meyakini, hasil produksi garam yang dihasilkan lewat teknologi ini akan membuat garam petani Desa Cemara Kulon lebih berkualitas.

“Di dalam tunel ini ada semacam filter di dalamnya yang bisa menyaring kemurnian garam,” kata Encep.

Baca Juga :  Gelombang Tinggi Hempaskan Kapal Nelayan Dadap, Kantor SAR: 2 Selamat 1 Hilang

Ia menjelaskan, teknologi ini sengaja dihadirkan mengingat belakangan ini beredar isu bahwa air laut sudah tercemar oleh mikroplastik.

Mikroplastik punya dampak berbahaya karena membawa zat kimia beracun dan masuk ke rantai makanan.

“Dengan menggunakan sistem tunel ini, air laut akan terfilter sehingga kandungan mikroplastik itu bisa hilang,” ujar dia.

Penulis: Wawan Idris

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini
Captcha verification failed!
Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!

Berita Terpopuler