MHNEWS.id.- Seperti gunung es, masalah pekerja migran Indonesia (PMI) atau tenaga kerja Indoneseia (TKI) hanya diketahui sebagian kecil, sebagian besarnya luput dari pantauan negara.

Seperti yang dialami Sri Mariyati (35), seorang PMI asal Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Ia hilang di Malaysia selama 15 tahun saat sedang berjuang demi ekonomi keluarganya dan devisa negara.

Perempuan asal Desa Tegaldlimo, Kecamatan Tegaldlimo itu bekerja ke Malaysia pada tahun 2008 silam. Saat itu usianya masih belia, yakni baru mau menginjak usia 20 tahun.

Tentu saja Sri Maryati nekat berangkat mengadu nasib ke negeri Jiran untuk memperbaiki kehidupan ekonomi keluarganya. Di desanya, ia merasa tidak bisa berbuat banyak untuk dapat mengubah kehidupan ekonomi keluarnya.

Namun meskipun ia berhasil berangkat ke Malaysia, Sri Mariyati tidak serta merta langsung dapat menyenangkan keluarganya dengan kiriman uang hasil jerih payahnya. Sebaliknya, malah yang ada  cerita duka.

Betapa tidak! Sejak Sri Mariyati di Malaysia hanya berlangsung beberapa bulan saja masih bisa kontak. Selebihnya keluarga kehilangan kontak hingga sampai 15 tahun lamanya.

Tepatnya pada 31 Juli 2023. Saat itu di Desa Tegaldlimo yang merupakan desa dampingan Migrant Care mendapat kunjungan dari Dfat dan Inklusi.

Kepala Dusun (Kadus) Sumberdadi, Jani, menanyakan terkait dengan adanya salah satu warga yang sudah 15 tahun hilang kontak di Malaysia.

Akhirnya dilakukan koordinasi untuk mencari keberadaan Sri Mariyati yang berada di Selangor, Malaysia. Namun satu bulan dari waktu itu belum ada kabar gembira.

Baru, tanggal 24 Agustus 2023, Pemdes Tegaldlimo mendapat informasi dari website Pemkab Banyuwangi bahwa ada pengaduan dari masyarakat atas nama Sri Mariyati yang mencari keluarganya.

Setelah mendapat kabar tersebut, akhirnya Pemdes Tegaldlimo dan Migran Care bergerak cepat untuk melacak keberadaan Sri Mariyati.

Setelah melakukan koordinasi, akhirnya pada 1 Oktober 2023, alamat dan identitas lengkap Sri Mariyati ditemukan.

“Selanjutnya kami koordinasi dengan pihak Malaysia, dan akhirnya dapat dipulangkan ke tanah air,” kata Uut Rochimatin, koordinator Migrant Care Banyuwangi, kepada Kompas.com, Jumat (27/10/2023).

Namun, kepulangan pahlawan devisa itu ternyata tidak berlangsung lama. Dia hanya bisa pulang ke Indonesia selama satu bulan.

“Ini dalam rangka cuti satu bulan, karena kontrak kerjanya masih dijalani satu tahun. Dan tersisa dua tahun lagi,” ungkap Uut.

Penulis: Wawan Idris