ALHAMDULILLAHI ROBBIL ‘ALAMIN. Allahumma sholli ‘ala Muhammad, wa‘ala alihi wa shohbihi wa sallam. Orang-orang kafir mengejar kesenangan duniawi yang hanya sebentar dan memilih kegelapan dengan meninggalkan cahaya serta kesenangan akhirat yang abadi.
Dzul Bijadain adalah seorang yatim yang sangat miskin. Ayahnya meninggal dunia dan tak mewariskan apa-apa. Dia lalu diasuh pamannya yang kaya sehingga dapat menikmati kehidupan dunia.
Namun dalam kesenangan dunia ketika tinggal bersama pamannya itu Dzul merasa gundah bahkan tersiksa. Ini terjadi karena pamannya adalah penyembah berhala dan ia pun dipaksa turut menyebahnya.
Ketika Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam tiba di Madinah, ada kerinduan dalam jiwanya untuk memasuki Islam. Namun keinginannya tidak dapat dicapai karena terhalang pamannya.
Suatu hari Dzul memberanikan diri mengungkapkan isi hatinya kepada pamannya. “Wahai pamanku, sudah lama aku menunggu kesediaanmu agar kita dapat masuk Islam.
Namun aku tidak melihatmu tertarik terhadap apa yang dibawa oleh Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, maka izinkanlah aku masuk Islam.”
Mendengar itu pamannya murka, “Demi Tuhan, kalau kamu mau mengikuti Muhammad, kembalikanlah semua yang pernah aku berikan kepadamu, termasuk dua pakaian yang kamu kenakan itu!”
“Demi Allah, aku lebih memilih mengikuti Muhammad dan meninggalkan penyembahan berhala. Ambilah semua yang ada padaku!” tegas Dzul menanggapi permintaan pamannya.
Pamannya lalu mengambil semua barang yang pernah diberikan kepada Dzul. Bahkan sarung yang sedang dikenakan sebagai penutup auratnya pun diminta kembali. Dzul pun kembali tak memiliki apa-apa, bahkan walau sehelai kain penutup auratnya.
Dzul pun lalu kembali kepada ibunya. Melihat anaknya tanpa pakaian yang pantas, ibunya kaget dan sagat sedih. Lalu ibunya masuk rumah dan mengambil sehelai kain kasar miliknya. Kain itu pun dipotongnya menjadi dua helai.
Satu helai dibuat semacam sarung sebagai penutup auratnya (bawahannya) sedangkan sehelai lagi dibuat atasan (semacam jubah atau baju).
Dengan pakaian sangat sederhana itu, Dzul lalu menuju Madinah. Ia ingin menemui Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam untuk memeluk Islam yang sangat diidamkan. Menjelang subuh Dzul sampai di Madinah. Karena lelahnya Dzul pun tertidur di Masjid Nabawi.
Usai sholat subuh Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam melihat sesosok orang yang tidak dikenalnya. Lalu mendekat dan bertanya. Dzul pun menceritakan siapa dirinya dan kenapa sampai ada di Masjid Nabawi.
Mendengar cerita itu Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan, “Sejak detik ini kamu adalah Abdullah Dzul Bijadain (dzul bijadain artinya pemilik dua kain kasar),” ujar Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam sambil mengajak ke rumahnya.
Sejak pertemuan dengan Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, Abdullah Dzul Bijadain terus belajar Islam, belajar Al-Qur’an, dan senantiasa menyertai Nabi. Abdullah Dzul Bijadain pun merasakan kebahagian yang tidak diketahui kadarnya, kecuali oleh Alloh Azza wa Jalla.
Sahabat Abdullah Dzul Bijadain hatinya senantiasa dipenuhi cahaya keimanan. Dia pun termasuk ke dalam golongan sebagai mana Alloh Azza wa Jalla firmankan dalam Al-Qur’an:
Dan apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang membuatnhya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan, sehingga dia tidak dapat keluar dari sana?
Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang kafir terhadap apa yang mereka kerjakan. .
Penulis : Wawan Idris
Sumber: Ensiklopedi Sahabat karya Mahmud al Mishri




