ALHAMDULILLAHI ROBBIL ‘ALAMIN. Allahumma sholli ‘ala Muhammad, wa‘ala alihi wa shohbihi wa sallam. Kecuali Alloh Azza wa Jalla, tak ada yang dapat memberikan hidayah kepada seseorang.

Hidayah merupakan hak mutlak Alloh Azza wa Jalla. Rasululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam pun tidak dapat memberi hidayah kepada siapa pun termasuk kepada orang yang sangat dicintainya, sang Paman Abu Thalib.

Sebagaimana diriwayatkan dalam hadist soheh Bukhari dan Muslim, dari Ibnul Musayyib, dari ayahnya, ia berkata:

Ketika menjelang Abu Thalib meninggal dunia, Rasululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam menemuinya. Ketika itu di sisi Abu Thalib terdapat Abu Jahal.

Nabi shallallahu ‘alaihi wå sállàm mengatakan pada pamannya ketika itu, “Wahai pamanku, katakanlah ‘laa ilaha illalah’ yaitu kalimat yang aku nanti bisa beralasan di hadapan Allah (kelak).”

Abu Jahal dan ‘Abdullah bin Abi Umayyah berkata, “Wahai Abu Thalib, apakah engkau tidak suka pada agamanya Abdul Muththalib?” Mereka berdua terus mengucapkan seperti itu, namun kalimat terakhir yang diucapkan Abu Thalib adalah ia berada di atas ajaran Abdul Muththalib.

Rasululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam kemudian mengatakan, “Sungguh aku akan memohonkan ampun bagimu wahai pamanku, selama aku tidak dilarang oleh Allah.”

Atas perkataan Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam tersebut (akan memohonkan ampunan kepada Alloh Azza wa Jalla untuk pamannya) maka kemudian turunlah ayat:

Tidak pantas bagi seorang Nabi dan bagi orang-orang yang beriman, mereka memintakan ampun bagi orang-orang yang musyrik, meskipun mereka memiliki hubungan kekerabatan, setelah jelas bagi mereka, bahwa orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahanam. .

Allah Ta’ala pun menurunkan ayat: “Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak bisa memberikan hidayah (ilham dan taufik) kepada orang-orang yang engkau cintai.” (H.R. Bukhâri, no. 3884 dan Muslim, no. 24).

Begitulah akhir kehidupan Abu Thâlib. Dia meninggal dalam keadaan kafir. Adapun riwayat-riwayat yang menceritakan bahwa ia mengucapkan kalimat syahadat pada akhir hayatnya, maka riwayat-riwayat tersebut tidak ada yang shahîh.

Jadi, Abu Thâlib meninggal tidak dalam keadaan Islam. Tentu dalam masalah ini terdapat banyak hikmah yang hanya diketahui Allah Azza Wa Jalla , dan Allah Azza Wa Jalla Maha Adil. Sedikit pun Dia tidak akan berbuat zhalim kepada hamba-Nya.

Penulis  : Wawan Idris
Sumber: rumaysho.com/almanhaj.or.id