mhnews.id.- Pada akhir tahun 2022 santer diberitakan di berbagai platform media mengenai kematian mendadak yang disebabkan infeksi dari parasite yang disebut amoeba pemakan otak.
Kematian akibat infeksi amoeba pemakan otak itu sendiri menimpa seorang pria di Korea Selatan. Pria ini dikabarkan tewas karena amoeba pemakan otak yang disebut dengan naegleria fowleri pada Desember 2022 lalu.
Meskipun peristiwanya jauh di Korea Selatan, masyarakat di tanah air harus mewaspadai penyakit mematikan ini. Karenanya perlu mengetahui gejala, penyebab, dan bagaimana cara pengobatannya manakala penyakit ini menjangkiti.
Pakar Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Dwi Peni Kartikasari mengatakan, naegleria fowleri adalah protozoa yang menyebabkan kematian sel otak atau nekrosis. Protozoa tersebut hanya bisa menginfeksi melalui hidung dan menembus otak dalam waktu singkat.
Melansir detik.com, proses kerjanya yang cepat itu menyebabkan lebih banyak kasus kematian dibanding kasus sembuh. Dia menjelaskan, sebagian besar kasus infeksi naegleria fowleri terjadi setelah pasien berkontak langsung dengan air tawar.
Walaupun demikian, sebenarnya kasus kematian akibat infeksi amoeba pemakan otak ini tidak sering terjadi. Data menyebutkan, penemuan kasus infeksi ini sudah ada sejak bertahun-tahun lalu.
“Ada sekitar 300-an kasus sehingga dapat dikatakan kasus yang jarang terjadi dan menariknya, sebagian besar kasus itu pasiennya berkontak langsung dengan air tawar,” paparnya, dalam rilis yang dikutip dari laman Universitas Airlangga.
Peni menyampaikan, hanya ada beberapa orang yang sembuh karena dideteksi sejak awal, sehingga bisa menerima terapi optimal. Menurutnya, ada salah satu penyintas yang tidak mengalami kerusakan otak karena menggunakan kombinasi obat antiprotozoa dan terapi hipotermia.
Gejala Akibat Amoeba Pemakan Otak
Dokter Parasitologi Kedokteran FK Unair ini menerangkan, gejala infeksi Naegleria fowleri mirip dengan meningitis. Maka, cepat atau lambat, orang yang terinfeksi akan ke rumah sakit.
“Akan terjadi peningkatan suhu disertai dengan sakit kepala yang hebat dan muntah. Setelahnya, pasien akan mengalami kaku di bagian leher, gangguan kesadaran dan keseimbangan,” ungkapnya.
Peni berpesan supaya masyarakat selalu waspada saat berkontak langsung dengan air tawar, utamanya yang langsung dari alam. Apabila berenang, airnya tidak perlu dihirup melalui hidung. Selain itu, perlu memastikan bahwa kolam renang sudah diberi kaporit.
Dia menambahkan, sebagaimana saran dari Centers for Disease and Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat, apabila akan menggunakan air tawar, misalnya untuk wudu, bisa direbus dahulu jika memang tidak yakin.
Peni menyarankan agar masyarakat segera ke rumah sakit apabila mengalami demam dengan sakit kepala yang hebat dan muntah, sehingga penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.
Penulis: Wawan Idris




