ALHAMDULILLAHI ROBBIL ‘ALAMIN. Allahumma sholli ‘ala Muhammad, wa‘ala alihi wa shohbihi wa sallam. Pada zaman Nabi Muhammad Shollallohu ‘alaihi wa sallam ada istital beraiat. Apakah makna dan tujuannya?
Rasullulloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mati, sedangkan di lehernya tidak ada ikatan bai’at, maka dia mati dalam keadaan jahiliyah.” .
Hadits di atas terkait baiat kepada pemimpin kaum muslimin. Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam menyebutnya mati dalam kondisi jahiliyah karena manusia yang hidup di zaman jahiliyah.
Mereka tidak punya pemimpin satu negara. Adanya hanya pemimpin kabilah-kabilah kecil. Sehingga peluang terjadinya peperangan antar-suku sangat besar.
An-Nawawi mengatakan, ”Mati dalam keadaan jahiliyah artinya mati seperti orang jahiliyah, dimana mereka suka perang, kacau, tidak punya pemimpin tunggal.” .
Dengan demikian, baiat sifatnya mengikat dan menutup. Mengikat masyarakat setelah mereka membaiat agar tidak melepaskan baiatnya dan menutup terjadinya baiat yang baru.
Dengan batasan ini, tidak ada lagi peluang terjadinya pemberontakan atau kekacauan di tengah kaum muslimin, sehingga baiat menyatukan Umat.
Ibnu Khaldun dalam kitabnya, al-Muqadimah menyatakan, ”Bai’at adalah janji untuk taat. Seolah orang yang berbai’at itu berjanji kepada pemimpinnya untuk menyerahkan kepadanya segala kebijakan terkait urusan dirinya dan urusan kaum muslimin.
Tanpa sedikitpun berkeinginan menentangnya. Serta taat kepada perintah pimpinan yang dibebankan kepadanya, suka maupun tidak.” .
Istilah baiat telah dikenal sejaka masa silam, bahkan sebelum Islam. Masyarakat memberikan baiatnya kepada masing-masing kepala kabilah mereka. Mentaati setiap perintah dan larangan pimpinan kabilah.
Ketika Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam diutus, setiap orang yang masuk Islam, membaiat beliau. Mereka berjanji setia untuk mendengar dan taat kepada semua aturan beliau dan juga berbaiat untuk melindungi beliau.
Dalam sejarah Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam, kita mengenal baiat aqabah pertama, baiat aqabah kedua, kemudian ada juga baiat ridhwan, untuk menuntut darah Utsman.
Salah satu isi baiat sahabat kepada Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam, dinyatakan dalam hadits dari Abbas bin Abdul Muthalib radïýâllάhu ’aηhü bahwa ada beberapa orang Madinah yang membaiat Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam.
Mereka bertanya, “Apa yang harus kami Baiatkan?” Lalu beliau bersabda, ”Kalian baiat aku untuk mendengar dan taat, baik ketika sedang semangat maupun lagi malas.
Untuk memberi nafkah baik ketika sedang sulit maupun sedang longgar, untuk selalu amar ma’ruf nahi munkar, menyatakan kebenaran syariat Allah, tanpa takut dengan celaan apapun.
Dan baiat untuk membelaku jika aku datang ke negeri kalian, dan melindungiku sebagaimana kalian melindungi diri kalian, istri kalian, dan anak kalian. Sehingga kalian mendapat surga.” . Dishahihkan Syuaib al-Arnauth.
Penulis : Wawan Idris
Sumber : konsultasisyariah.com




