MHNEWS.ID.- Keberhasilan Kabupaten Indramayu menurunkan prevalensi balita stunting secara ekstrem tidak terlepas dari komitmen pimpinan daerah dan dukungan masyarakat.
Pimpinan daerah dalam hal ini Bupati Indramayu, Lucky Hakim dan Wakil Bupati Syaefudin tidak hanya memberikan spirit dan arahan juga dikuatkan dengan adanya regulasi.
Ya, untuk meraih sukses itu Pemkab Indramayu mengeluarkan Keputusan Bupati (Kepbup) untuk menetapkan 15 desa lokus prioritas pencegahan stunting tahun 2025.
Selain itu penguatan peran kader Posyandu, Tim Pendamping Keluarga (TPK), dan Kader Pembangunan Manusia (KPM) juga menjadi bagian dari regulasi tersebut.
Total terdapat lebih dari 5.000 kader yang aktif dalam pencegahan stunting di desa dan kecamatan.
Data Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu mencatat, sejumlah indikator utama telah melampaui target nasional.
“Seperti cakupan pelayanan KB pasca persalinan (96,35% dari target 70%) dan persentase desa/kelurahan bebas buang air besar sembarangan (100% dari target 90%),” ujar Kepala Dinas Kesehatan Indramayu, Wawan Ridwan.
Sementara itu, TPPS Provinsi Jawa Barat mengapresiasi langkah yang telah ditempuh Pemkab Indramayu dan berharap upaya tersebut dapat terus ditingkatkan sehingga kabupaten ini dapat mencapai target zero stunting.
Diketahui hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 mencatat, prevalensi balita stunting di Indramayu turun dari 18,4% menjadi 9,8% hanya dalam waktu satu tahun.
Penurunan signifikan ini mengantarkan Indramayu sebagai kabupaten dengan angka stunting terendah kedua di Jawa Barat.
Keberhasilan tersebut merupakan hasil dari sinergi lintas sektor dan komitmen kuat Pemkab Indramayu dalam menjalankan 8 Aksi Konvergensi Percepatan Penurunan Stunting secara terpadu.
Komitmen ini ditegaskan Wakil Bupati Indramayu, Syaefudin dalam acara Penilaian Kinerja 8 Aksi Konvergensi Percepatan Penurunan Stunting Kabupaten Indramayu Tahun 2025.
Penulis : Daniswara
Editor : Wawan Idris


