mhnews.id.- Ratusan siswa SDN 1 Cangkring, Kecamatan Cantigi, Kabupaten Indramayu, terpaksa belajar dengan kaki ‘nangkring’ di kursi karena ruang kelas terendam banjir yang disebabkan air laut meninggi atau rob.
Sementara guru yang mengajar terpaksa basah-basahan dan mengenakan sandal jepit sebab kalau nekat mengenakan sepatu dipastikan akan jebol. Situasi demikian kerap terjadi di sekolah tersebut karena memang sudah menjadi langganan banjir rob.
Di sekolah tersebut, banjir rob menggenangi semua ruang kelas, kecuali ruang kelas satu. Ketinggian banjir yang menggenangi ruangan kelas itu bervariasi antara 20 – 30 centimeter. Akibatnya, para siswa terpaksa belajar dengan kaki yang terendam banjir rob.
Agar tidak kedinginan akibat genangan banjir, para siswa juga terlihat menaikkan kakinya ke atas kurisi atau nangkring. Kaki yang kelamaan terendam air memang tidak baik dan bisa menjadi sakit.
Selain ruang kelas, banjir rob juga menggenangi ruang guru. Sama seperti anak-anak didik mereka, guru juga terpaksa menggunakan sepatu bot ataupun sandal untuk beraktivitas di sekolah.
Salah seorang guru SDN 1 Cangkring, Sri Mulyawiyanti menjelaskan, banjir rob mulanya terjadi sepekan yang lalu. Setelah sempat surut, banjir rob kembali datang pada Senin (19/12/2022) pagi dan masih berlangsung hingga hari ini.
‘’Minggu kemarin itu rob lebih tinggi dari yang sekarang. Padahal saat itu anak-anak sedang mengikuti ujian penilaian akhir semester (PAS) satu,’’ terang Sri kepada mhnews.id, Kamis (22/12/2022).
Meski demikian, sebanyak 207 siswa di SDN 1 Cangkring harus tetap mengikuti ujian sekolah itu dengan kondisi ruang kelas kebanjiran. Mereka harus tetap berkonsentrasi mengerjakan soal ujian meski kaki mereka terendam banjir.
Bukan kali ini saja, lanjut Sri, banjir rob sudah kerap melanda sekolah tempatnya mengajar. Dalam setahun, banjir rob bisa terjadi sampai lima kali. ‘’Banjir rob paling lama surutnya sekitar seminggu,’’ tutur Sri.
Sri mengungkapkan, banjir yang menjadi langganan itu sangat menganggu aktivitas belajar mengajar di SDN 1 Cangkring. Tak hanya itu, banjir juga menyebabkan berbagai perabot, terutama meja, kursi dan lemari dari besi, menjadi keropos.
‘’Ya, namanya juga air laut kan asin, bikin perabotan, termasuk meja, kursi, lemari cepat keropos,’’ tukas Sri. Selain itu, genangan air banjir juga meninggalkan bekas di dinding sekolah. Meski air sudah surut, namun bekasnya tetap tertinggal dan membuat dinding terlihat kotor.
Salah seorang siswa SD Negeri 1 Cangkring, Sendi Aulia menuturkan, banjir rob yang merendam sekolahnya membuat aktivitas belajarnya menjadi tidak nyaman. Dia terpaksa pergi ke sekolah dengan menggunakan sandal.
‘’Gak bisa pakai sepatu karena kelasnya kebanjiran. Belajar juga gak nyaman,’’ kata Sendi. Sendi berharap, banjir rob yang kerap merendam sekolahnya bisa segera mendapat penanganan. Dengan demikian, banjir tidak lagi terulang.
Penulis : Iir Sairoh
Editor : Wawan Idris




