Oleh Entang Sastraatmadja
Penulis adalah Ketua Harian DPD HKTI Jawa Barat
KATA-KATA pepatah Sunda selalu berisi pesan penuh makna. Pepatah dianggap sebagai nasihat bagi warga setempat. Seperti daerah lain, Sunda juga mempunyai pepatah yang kerap dijadikan nasihat hidup. Jika memahaminya dengan baik, pepatah Sunda banyak mengajarkan tentang kehidupan.
Sangat banyak peribahasa Sunda yang menyindir kehidupan. Salah satunya adalah “goong nabeuh maneh” yang artinya bisa dikatakan “menyombongkan diri sendiri”. Sikap seperti ini betul-betul kurang senafas dengan nilai budaya bangsa.
Sikap sombong bukanlah perilaku yang kita dambakan. Terlebih-lebih sikap menyombongkan diri sendiri.
Dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat, yang namanya “goong nabeuh maneh” sering dipertontonkan seorang pejabat yang butuh pengakuan atas apa-apa yang dikiprahkannya selama ini.
Kondisi ini tanpak semakin terang benderang, sekiranya pejabat atau mantan pejabat tersebut dihinggapi “post power sindrom“.
Banyak pengamat menyimpulkan “post power syndrom” adalah penyakit seseorang yang dulunya sempat menggenggam kekuasaan, namun karena sesuatu hal, kini tidak lagi jadi pejabat.
Bila perilakunya masih ingin dianggap sebagai pejabat, ke sana ke sini ingin dianggap sebagai pejabat, tidak salah kalau dirinya dikatakan sedang dihinggapi “post power syndrom“.
Di negeri ini, penghormatan kepada seorang pejabat, umumnya akan berlangsung selama dirinya masih menjadi pejabat. Namun, jika sudah tidak menjadi pejabat, boleh jadi penghormatan dari masyarakat akan memudar dengan sendirinya.
Itu sebabnya, wajar jika muncul prilaku aji mumpung, yang kerap kali ditampilkan para pejabat. Betapa tidak, menjadi pejabat di negeri ini, sungguh sangat menyenangkan. Jadi, wajar jika banyak orang yang berkeinginan untuk menjadi pejabat.
Sebagai pejabat publik, dirinya akan dilengkapi oleh seorang ajudan dan sopir, lengkap dengan mobil dinas yang cukup mewah. Urusan kantor dilengkapi pula oleh seorang Sekretaris Pribadi (Sekpri).
Seorang pejabat publik di birokrasi Pemerintah, benar-benar memiliki fasilitas yang tidak mungkin bakal dirasakan oleh rakyat biasa. Rumah dinas dan kebutuhan kesehariannya sudah terfasilitasi.
Dirinya tidak perlu lagi terganggu oleh bunyi hand phone kalau ada yang ingin menelpon dan menghubungi. Sebab, hand phonenya dibawa ajudan.
Gambaran pejabat publik seperti inilah yang beberapa waktu lalu, bangsa ini dikejutkan dengan adanya iklan LIGNA, yang menyebut ” kalau sudah duduk lupa berdiri”. Artinya, suatu hal yang lumrah, jika seorang pejabat publik selalu ingin menggengam kekuasaan.
Karena syahwat kekuasaannya itu pula maka selesai satu periode, ingin dilanjut dengan periode ke dua. Gaya penggenggam kekuasaan seperti ini, dapat dibayangkan apa yang bakalan terjadi setelah dirinya tidak lagi jadi pejabat publik.
Yang pasti Ketika tak lagi menjabat, semua fasilitas jabatan telah dihentikan. Selama jadi pejabat, semua kebutuhan hidup ada yang melayani, setelah ngak jadi pejabat, tidak ada lagi yang melayani. Semua harus dikerjakan sendiri, tanpa fasilitas negara.
Namun begitu, tidak sedikit mantan pejabat publik yang merasa dirinya tetap sebagai pejabat. Akibatnya, kalau dirinya tampil dalam sebuah acara dan diminta untuk memberi sambutan, maka yang disampailannya biasanya akan terkait dengan karya monumental kepemimpinannya.
Dirinya cenderung akan memuji diri sendiri. Dirinya pasti akan merekam ulang apa-apa yang telah dicapainya tatkala jadi pejabat. Dia akan bangga dengan pembangunan gedung tertentu yang dianggap sebagai karya besarnya sebagai pejabat publik.
Begitu dan begitulah seterusnya, sehingga di mata publik terkesan dirinya sedang mengumbar kesuksesan sendiri. Goong Nabeuh Maneh! Prilaku demikian sudah saatnya tidak dikembangkan jadi kebiasaan seseorang.
Siapa pun dirinya dan apapun pangkatnya, kalau sudah tidak menjabat lagi sudah waktunya untuk mengaca diri. Biarlah seabreg karya yang digarapnya menjadi catatan tersendiri dalam kamus kehidupan. Rakyatlah yang akan menilai kesuksesan yang diraih.
Dalam suasana kekinian, menyombongkan diri sendiri, hanyalah akan mengundang tertawaan masyarakat. Prestasi yang dicapai seorang pejabat publik, pada dasarnya merupakan kerja bareng segenap komponen bangsa. Bukan kerja perorangan atau sekelompok orang saja.
Kita sering saksikan adanya tokoh bangsa yang membanggakan diri sendiri. Kita tidak tahu dengan pasti, mengapa ada orang yang merasa nyaman, kalau dirinya dapat mengenang masa lalu dan membanggakannya.
Padahal semua orang tahu persis, ketika dirinya masih jadi pejabat publik tidak terlalu banyak capaian yang pantas disebut sebagai maha karya yang monumental.
Goong Nabeuh Maneh, sepertinya masih sering dilakukan oleh orang-orang yang terkena penyakit “post power syndrom“. Itu sebabnya, kalau saat ini masih terekam adanya perilaku oknum-oknum yang doyan menyombongkan diri, maka jadi tugas kita bersama untuk mengingatkannya. Dunia sedang berubah. Mari kita lalui perubahan dengan penuh keyakinan diri. ***




