MHNEWS.id.- Mengurangi bahkan menghapus kemiskinan rakyat kerap jadi senjata ampuh untuk menaikkan dan menjatuhkan popularitas maupun elektabilitas pemimpin atau calon pemimpin (politisi).

Pada musim politik seperti saat ini kemiskinan rakyat menjadi jualan utama para politisi, baik yang akan menjadi anggota legislatif, bupati, wali kota, gubernur, sampai dengan presiden maupun yang sudah ‘jeneng’.

Para politisi itu mengumbar narasi akan menghapus kemiskinan untuk menaikkan popularitas dan elektabilitasnnya. Dalam waktu bersamaan ia juga menyerang lawannya dengan narasi ‘tidak mampu menghapus kemiskinan’.

Gedung SMKN Jateng yang megah dengan fasilitas lengkap namun biaya sekolahnya gratis. Foto: dok. istimewa

Ganjar Pranowo yang saat ini menjabat sebagai Gubernur Jawa Tengah (Jateng) jauh-jauh hari membuat terobosan untuk mengurangi kemiskinan di daerahnya. Solusi yang dijalankannya pun sangat realistis dan strategis.

“Mengurangi kemiskinan dengan duit, ok! Dengan, bantuan sosial lainnya, juga ok! Namun duit menjadi tak baik untuk mengurangi kemiskinan jangka panjang,” ujar Ganjar Pranowo dalam chanel YouTubenya.

Bagi Ganjar Pranowo yang kini menjadi calon presiden (capres) dari PDI Perjuangan itu, uang dan bansos bukan solusi satu-satunya untuk mengatasi kemiskinan, terlebih dalam waktu panjang.

Itulah sebabnya Ganjar memilih jalur pendidikan sebagai solusi mengatasi kemiskinan. Melalui pendidikan, rakyat dibekali ilmu dan keterampilan yang kemudian akan menjadi modal utama berikhtiar mendapatkan rizki dan meraih kesejahteraan.

Konsep pendidikan sebagai solusi mengatasi kemiskinan ini lalu diwujudkan dengan membuak SMKN Jateng Semarang, SMKN Jateng Pati, dan SMKN Jateng Purbalingga. SMKN Jateng ini dibuka mulai tahun 2014.

SMKN Jateng yang dirintis Ganjar Pranowo ini gratis dan diperuntukkan bagi siswa miskin dengan orangtua yang tidak mampu membayar uang sekolah.

Seluruh kebutuhan siswa di SMKN Jateng diberikan secara gratis, mulai pendaftaran, seragam, sepatu, peralatan sekolah, asrama, hingga makan sehari-hari.

Sekolah berkonsep boarding tersebut membekali siswa dengan kemampuan akademik sesuai dengan jurusan.

Misalnya seperti jurusan di SMKN Jateng kampus Semarang, mulai dari teknik konstruksi dan perumahan, teknik elektronika industri, teknik instalasi tenaga listrik, teknik permesinan, dan teknik kendaraan ringan.

Sementara itu, SMKN Jateng kampus Pati menyediakan jurusan agribisnis pengolahan hasil pertanian dan teknik bodi otomotif, sedangkan SMKN kampus Purbalingga menawarkan jurusan teknik pengelasan dan teknik permesinan.

Sekolah ini telah meluluskan sebanyak 1.837 siswa. Dari jumlah lulusan tersebut, sekitar 80 persen diantaranya terserap di dunia kerja dan perguruan tinggi, baik di tingkat nasional maupun luar negeri.

Berdasarkan data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Jateng, sebanyak 1.837 siswa tersebut masing-masing merupakan lulusan dari SMKN Jateng Semarang 825 siswa, SMKN Jateng Pati 336 lulusan, dan SMKN Jateng Purbalingga 676 siswa.

Penulis: Wawan Idris