SETIAP manusia (yang beriman) pasti akan mendapatkan ujian dari Alloh Azza wa jalla. Ujian itu berbagai macam bentuknya, salah satunya adalah musibah. Alloh Azza wa jalla berfirman:
أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (Q.S. Al- ‘Ankabut: 2).
Musibah sebagai sebuah ujian haruslah diimani sepenuh hati. Sebagaimana firman Alloh Azza wa jalla di atas, ujian itu sebuah keniscayaan akan menimpa kepada setiap manusia sebagai sebuah takdir.
قل لن يصيبنا إلا ما كتب الله لنا
“Katakanlah, “Sekali-kali tidak akan menimpa kamu melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami.” (Q.S. At-Taubah: 51).
Atau dalam ayat yang lain Allah Azza wa jalla juga berfirman:
ما أصاب من مصيبة في الأرض ولا في أنفسكم إلا في كتاب من قبل أن نبرءها إن ذلك على الله يسير
“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Q.S. Al-Hadid: 22).
Mengingat musibah itu sebagai takdir Alloh Azza wa jalla dan ditimpakan kepada hamba-hambanta untuk menguji keimanannya, maka sabar dalam menghadapinya adalah sikap terbaik. Sikap sabar akan meringankan musibah itu sendiri sekaligus memanen pahala.
Ketika tertimpa musibah, renungkanlah, banyak hamba Allah Azza wa jalla yang juga mengalaminya. Ujian manusia berbeda-beda, namun dengan pasrah, sabar, dan tawakkal, yakinlah setelah kesulitan akan ada kemudahan bi idznillah. Allah Azza wa jalla berfirman:
يأ يها الذين أمنوا اصبروا و صبروا
“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaran.” (Q.S. Ali Imran: 200).
Musibah apa pun yang menimpa manusia, selain kematian adalah hal biasa. Dengan sabar, tawaqal, dan ikhlas Alloh Azza wa jalla akan menolong serta menghilangkannya. Saat Alloh Azza wa jalla menolong maka musibah akan berganti menjadi berkah.
Nabi Muhammad Shollallohu alaihi wa sallam bersabda: “Kaum muslimin sekalian! Siapapun di antara umat manusia ini, atau dari kalangan mukminin, secara khusus yang tertimpa musibah hendaknya ia merasa beruntung karena belum merasakan musibah kematian. Ia baru merasakan musibah-musibah lainnya. Karena tak seorangpun dari umatku yang akan tertimpa musibah yang lebih besar dari musibah kematianku ini.” (H.R. Ibnu Majah no. 1599).
Penulis: Wawan Idris




