MHNEWS.id.- Rakyat Indonesia benar-benar harus cerdas, bijak, dan menggunakan nurani saat memilih calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapes) pada Pemilu 2024 mendatang.
Betapa tidak! Saat ini banyak program yang ditawarkan (dikampanyekan) capres-cawapres yang sifatnya membodohi masyarakat. Program asal rakyat senang tapi tidak mendidik dan kontraproduktif.
Salah satunya adalah kampanye program makan siang gratis yang dianggarkan Rp 400 triliun oleh salah satu pasangan capres-cawapres. Program ini seakan berpihak kepada rakyat padahal kurang manfaat.
Disebut demikian karena masih banyak daerah yang miskin fasilitas kesehatan (faskes) dan infrastruktur. Padahal hal ini jauh lebih penting daripada memberi makan gratis.
Seperti diungkapkan capres nomor 3 Ganjar Pranowo, bahwa di Papua dan daerah lainnya masih sangat jauh tertinggal dalam hal faskes maupun infrastruktur, seperti jalan, jembatan, dan sekolah.
Ganjar Pranowo memgaku sudah berkampanye keliling di beberapa wilayah Indonesia. Ganjar kemudian menyinggung sulitnya kehidupan di Papua usai berkunjung ke daerah tersebut.
Ganjar mengungkapkan hal itu dalam acara Sarasehan Nasional GMNI, di Gedung Serbaguna, GBK, Jakarta Pusat, Kamis (28/12/2023). Ganjar awalnya berbagi pengalaman dirinya berkampanye di Papua dan bertemu seorang pendeta yang berusaha menolong ibu melahirkan.
“Bapak Ganjar kami berada dalam ketidakmudahan, kami tidak punya ilmu itu, tapi di kampung kami tidak ada fasilitas itu, dan tidak ada orang yang mau menolong ini dan mampu menolong ini, yang ada tinggal kami,” ujarnya.
Ganjar mengatakan fasilitas kesehatan (faskes) hingga pendidikan masih sangat minim di Papua. Dia lantas menyoroti salah satu program pasangan calon lain terkait makan siang gratis yang dianggarkan dalam APBN sebanyak Rp 400 triliun.
“Bapak Ibu, bagaimana menolongnya, mereka kalau membawa ke rumah sakit, RS jauh, ke mana mereka harus lewat, bukan jalannya rusak atau jelek, tidak ada jalan, dan kemudian kita berpesta pora tinggi-tinggi sekali,” ujarnya.
Saat ditemui terpisah usai acara, Ganjar pun menjelaskan maksud dari Rp 400 triliun untuk makan siang gratis yang disebutnya. Ganjar menilai program yang diberikan kepada rakyat seharusnya lebih dipertimbangkan dengan baik.
“Kalau kita bicara program yang kemudian akan diberikan kepada rakyat tentu kita bisa menimbang-nimbang siapakah sumbernya? Untuk apa? Mana yang jadi prioritas? Karena rasanya IKN yang butuh sekitar Rp 400 triliun saja itu tidak selesai-selesai,” imbuh dia.
Ganjar lantas berterima kasih atas dukungan GMNI. Dia pun mengajak para pendukungnya untuk bergerak bersama menyentuh rakyat.
“Tentu hari ini kami senang karena kawan-kawan dari GMNI, alumni GMNI kumpul dan mereka bersama relawan memberikan dukungan kepada saya terima kasih. Mereka siap bergerak bersama rakyat dengan apa yang saya ceritakan tadi,” katanya.
Penulis: Wawan Idris




