Oleh Dr. Supriyanto Dj. Manguntaruno
(E-mail: hujandikm97@gmail.com )

BANYAK ide dan kreativitas baru dari para guru yang tergabung dalam Program Guru Penggerak (PGP) Angkatan 9 di Kabupaten Indramayu.

Kumpulan ide dan kreativitas itu dapat penulis saksikan saat memenuhi undangan untuk menghadiri Kegiatan Lokakarya 7 Program Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 9.

Program Bimtek Raja dari Dayono (guru SMKN 1 Sindang). Foto: Dok. Istimewa

Kegiatan tersebut dilaksanakan di kampus SMA Negeri 1 Sindang pada Jumat s.d. Sabtu (26-27 April 2024), setiap harinya dimulai pukul 07.30 s.d. selesai, yang diisi dengan inti kegiatan yaitu Panen Karya Hasil Belajar.

Kegiatan yang cukup meriah namun serius itu diikuti oleh 96 orang guru penggerak yang berasal dari berbagai sekolah di Kabupaten Indramayu. Para Guru Penggerak dalam Program Guru Penggerak Angkatan 9 diikuti oleh para guru dari Jenjang TK, SD, SMP, SMA dan SMK.

Jumlah guru per jenjang bervariasi, dengan yang paling sedikit berasal dari TK, satu orang, yaitu Meta Ayunda (TK Tunas Mekar Pawidean), dan beberapa orang guru dari SMA dan SMK. Sebagian besar peserta berasal dari jenjang SD dan SMP.

Para Guru Penggerak dalam Program Guru Penggerak Angkatan 9 Jenjang SD, terdiri dari: Yeni Rahmatillah (SDN 1 Tegal Taman), Kasmudi (SDN 2 Patrol), Agus Prihatin (SDN 3 Patrol), Muhammad Syaeful Bahri (SDN 2 Karangasem).

Herlina (SDN 1 Mekarsari), Tamjid (SDN 2 Bongas), Maslahat Nur Azizah (SDN 1 Jatimulya), Nur Istiqomah (SDN 1 Tersana), Rasmita (SDN 3 Loyang), Dadang Hermawan (SDN Manangga), Muntasna (SDN 6 Gunungsari), Sri Agustin (SDN 2 Jatimunggul).

Siti Zulfah (SDN 4 Plosokerep), Niswatin (SDN 3 Rajasinga), Sri Ningrum (SDN Tawangsari), Syarifuddin (SDN 3 Cipedang), Tatang Rohendi (SDN Haurkolot), Dodi Manulung (SDN Sukahati), Heni Widiawati (SDN Nambo), Akhmad Supiyan (SDN 1 Margadadi).

Warem (SDN 3 Kiajarankulon), Herlina (SDN 4 Rambatan Kulon), Hadi Pribadi (SDN 1 Kiajaran Kulon), Melina Novarina (SDN 3 Rajasinga), Muhammad Rifqi Firdaus (SDN 1 Sleman), Sunandi (SDN 2 Mundakjaya), Umi Sholikha (SDN Ujung Pendok Jaya).

Suhaeti (SDN 1 Lempuyang), Nurjanah (SDN 3 Wanguk), Wasmi (SDN 1 Anjatan), Idha Rahayu (SDN Sukahati), Ahmad Maftuh (SDN 2 Karangtumaritis), Yuswatul Amaliyah (SDN 2 Wanguk), Farah Zihan Bajrie (SD Islam Al Jannah), Ridwan (SDN 3 Sidamulya).

Ade Irwan Sumantri (SDN 3 Ujunggebang), Rina Nurandia Ningsih (SD Global Mandiri), Ida Naskah Lapsara (SDN 1 Panyindangan Wetan), Alvivi Dewi Puteri (SDN 2 Karangampel Kidul), Patmawati (SDN 1 Dukuh Jeruk), Ramli (SDN 2 Sukagumiwang).

Bisri (SDN 1 Mekargading), Vicky Octaria (SDn 2 Bangodua), Novianti Yudasari (SDN 1 Wanasari), Ropidi (SDN 2 Tersana), Tri Anita (SDN 2 Malangsari), Mohammad Ardiat Maja (SDN Cilogog), Rano (SDN 1 Cibereng), Suja (SDN 3 Jayalaksana).

Sri Lestari (SDN 2 Tegalurung), Eka Mustika (SDN 2 Kebulen), Ahmad Muharor (SDN 3 Limpas), Karwadi (SDN 1 Margamulya), Feri Lutviyadi (SDN 2 Bantarwaru), dan Asep Dadi Riswanto (SDN Kebonbendara).

Para Guru Penggerak dalam Program Guru Penggerak Angkatan 9 Jenjang SMP, terdiri dari: Ayu Septiani (SMPN 2 Sukra), Shinta Afifah Suri (SMPN 1 Sukra), Rinawati (SMPN 2 Patrol), Laelatul Fitriyah (SMPN 1 Sukra), Nita Silvana (SMPN Unggulan Sindang).

Abdul Rosid (SMPN 1 Losarang), Siti Kurniawati (SMPN 2 Losarang), Al Nuri’ah (SMPN 1 Bongas), Ely Faridah (SMPN 1 Sukagumiwang), Tanti Yuniarti (SMPN 2 Haurgeulis), Yatno (SMPN Satu Atap 1 Lohbener), Marya Ulfa (SMPN 1 Lelea).

Melasari Restianah (SMPN 3 Terisi), Sri Mulyanti (SMPN 1 Tukdana), Khaeriyatul Zanah (SMPN 1 Pasekan), Rohaenah (SMPN 1 Widasari), Supriyadi (SMPN 3 Jatibarang), Dina Ferdiana (SMPN 1 Bongas), Novianti (SMPN 2 Haurgeulis).

Eko Rachmanto (SMPN Satu Atap 2 Losarang), Toipah (SMPN 1 Kroya), Taufik Ibrahim (SMPN 1 Bongas), Diah Ayunda Wardhana (SMPN 4 Sindang), Isnaeni Rahmawati (SMPN 3 Sindang), Agus Sugianto (SMPN 1 Balongan), Rochman (SMPN 1 Karangampel).

Sri Rahayu Waskitaningrum (SMPN 1 Cantigi), Hariri (SMPN 1 Kertasemaya), Cici Winarti (SMPN 2 Lelea), Mochamad Herianto (SMPN 3 Terisi), Arie Wahyuni (SMPN 1 Losarang).

Haris Mubarok (SMPN 1 Lelea), Suyatno (SMP PGRI Kedokanbunder), Unang Hermawan (SMPN 2 Sindang), Ana Rohdiana (SMPN Unggulan Sindang), Prasetya Ika Trisnawati (SMPN 1 Sukra), dan Tarsono (SMP Pemda Anjatan).

Sementara itu, para Pengajar Praktik (PP) yang hadir dalam Kegiatan Lokakarya 7 Program Guru Penggerak Angkatan 9, terdiri dari: Uttomo (SMPN Satu Atap 2 Losarang), Wasilah (SDN 1 Singaraja), Dwinanto Satiawan (SMPN Satu Atap 1 Losarang).

Omih Rochimi (SMPN 1 Lohbener), Fina Oktapiana (SMPN 1 Gantar), Nur Abdul Arif (SDN 3 Temiyang), Casto (SDN Dermayu), Widya Agustin (SMPN 1 Krangkeng), Rachma Wahyuni (SMPN 2 Krangkeng), Hadi Sukamto (SMPN 4 Sindang).

Idah Farida (SMPN Satu Atap 1 Pasekan), Tanti Ariyani (TK PUI), Iwan Kartiwan (SDN 2 Mangunjaya), Yuni Setianingsih (SMPN 1 Haurgeulis), dan Mulyana (SMPN Satu Atap 2 Terisi).

Pameran Panen Karya Hasil Belajar & Kelas Berbagi

Para guru penggerak tersebut memamerkan ide dan kreasi mereka dalam stand-stand yang teratur. Semua stand berdiri di halaman basket/upacara kampus SMAN 1 Sindang Kabupaten Indramayu.

Semua tamu undangan, dan tentu saja sesama guru penggerak, dapat mengunjungi semua stand yang ada. Pada saat kunjungan itulah berbagai apresiasi bisa dilakukan, bahkan sampai tersedia kesempatan untuk berdialog tentang ide/gagasan kegiatan yang dipamerkan oleh masing-masing guru penggerak.

Beberapa stand yang sempat ter-capture oleh penulis, antara lain stand karya Dayono (guru SMKN 1 Sindang) yang menyajikan judul program Bimbingan Praktek Rekan Sejawat (Bimtek Raja).

Program ini didampingi oleh fasilitator Dwining Bintarawati, dan pengajar praktik Yati Mulyati. Program kreasi Dayono ini dirancang untuk menyiapkan siswa yang kompeten, mandiri, dan profesional di bidangnya, namun mengalami hambatan dari segi rasio/perbandingan guru dan siswa yang tidak seimbang.

Untuk menanggulangi ketidakseimbangan itulah muncul gagasan program BimTekRaja (Bimbingan PrakTEK RekAn SejAwat).

Penulis juga berkesempatan mengapresiasi Program Jumat Berseri (Bersih, Sehat, dan Rindang) yang digagas oleh Latief (guru SMA Negeri 1 Kandanghaur).

Program ini muncul dari latar belakang masih rendahnya kesadaran dan kepedulian murid akan tanggung jawab dan disiplin dalam membuang sampah pada tempatnya, memilah sampah organik dan anorganik, serta kepedulian terhadap kebersihan lingkungan sekolah dan kelas.

Selain itu, para siswa SMAN 1 Kandanghaur juga diketahui belum dapat menjaga lingkungan, dan masih banyak barang-barang bekas sampah yang semestinya dapat didaur ulang menjadi barang yang lebih bermanfaat.

Catatan penting dari lokakarya dan pameran Panen Hasil Belajar ini adalah masih adanya guru penggerak yang keliru dalam memahami kurikulum dan bagian-bagian di dalamnya.

Dari beberapa stand yang dikunjungi jelas terlihat gagalnya beberapa peserta untuk membedakan apa artinya pembiasaan, intrakurikuler, ekstrakurikuler, dan kokurikuler seperti, misalnya, yang dijelaskan dalam Permendikbudristek No. 12 Tahun 2024 tentang Kurikulum Merdeka pada PAUD, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah.

Tak hanya itu, kesalahan ejaan pun masih ditemukan dalam banner yang dipajang (lihat, misalnya, pada Program Sabtu Histeria (Hidup Sehat dan Ceria) gagasan guru SD Negeri 1 Cibereng.

Kesalahan pemahaman dan ejaan, mungkin terjadi karena ada ketergesaan dalam membuat banner. Namun, harusnya tidak terjadi, sebab para guru penggerak memperoleh pendampingan dari fasilitator dan pengajar praktik.

Sebegitu jauh, berbagai kekurangan yang ditemui dari berbagai stand tersebut hanyalah titik-titik garam di lautan. Maksudnya, sebagian besar program sudah luar biasa bagusnya. Semoga bisa menggerakkan pendidikan di Kabupaten Indramayu agar menjadi lebih bermutu.

Pentingnya Kompetensi Komunikasi

Pada sesi kelas berbagi, di hari kedua, panitia menampilkan tiga orang pemateri untuk mempresentasikan program mereka, yaitu Noviyanti (guru SMPN 2 Haurgeulis) dengan program berjudul “Mba Yu Jayantik/Limbah Kayu Jadi Karya Seni Estetik”.

Ida Naskah Lapsara (guru SDN 1 Panyindangan Wetan) dengan program berjudul “Sapa Saya/Selasa Sopan Santun Yah!”, dan Fais Ramadhan (guru SMA Negeri 1 Sindang) dengan program berjudul “Pagarayu/Panen Karya Ragam Budaya Indramayu”.

Terdapat beberapa pertanyaan yang muncul pada saat kelas berbagi yang sayangnya tidak memperoleh jawaban akurat. Terkesan kata kunci (key word) dari penanya tidak disintesiskan terlebih dahulu oleh penjawab/pemateri.

Pertanyaan dari Kabid Pembinaan Ketenagaan GTK Disdikbud, Wati Rosanah, kepada pemateri kedua dari SDN 1 Panyindangan Wetan, tidak berjawab secara memuaskan.

Penyaji bahkan tidak terlihat mencatat apa yang ditanyakan penanya, minimal key word-nya. Alhasil, jawaban yang diberikan masih bersifat umum, tak menjurus ke arah yang dimaksudkan penanya.

Pertanyaan dari penanya terakhir, tampaknya serius menyentuh kepada persoalan yang dihadapi para guru penggerak, muncul dari sesama Guru Penggerak Indramayu, yaitu dari Bu Arie Wahyuni.

Guru IPA dari SMPN 1 Losarang itu bertanya kepada para pemateri kelas berbagi, apa yang akan dilakukan ketika mengalami kendala saat mengimplementasikan program di sekolah sendiri?

Pertanyaan ini seakan mengingatkan para calon guru penggerak bahwa ada tantangan yang lebih besar yang akan dihadapi para guru penggerak, yaitu dari sekolah tempatnya bertugas itu sendiri.

Maksudnya, semua guru penggerak mungkin suatu saat akan mengalami kejenuhan ketika ide-idenya atau gagasannya tidak disambut baik oleh sesama guru di sekolahnya, bahkan mungkin justru mengalami penolakan dari pimpinannya, yaitu kepala sekolahnya.

Pertanyaan ini dijawab oleh pemateri dari SDN 1 Panyindangan Wetan sebagai (kira-kira, pen.): “yang penting program jalan terus”.

Bahwa ia akan terus bergerak melaksanakan ide dan programnya meskipun mengalami hambatan, misalnya dengan mencoba tetap fokus kepada para siswa kelas tinggi yang mau diajak aktif untuk bergerak.

Ia memedomani sepotongan isi pidato motivasi dari Pak Menteri Pendidikan, pucuk pimpinan Kemdikbudristek, Nadiem Makarim, agar segeralah bergerak tanpa harus menunggu perintah dari atas, termasuk dari kepala sekolah.

Perubahan tidak dimulai dari atas. Semuanya berawal dan berakhir dari guru. Jangan menunggu aba-aba, jangan menunggu perintah. Ambillah langkah pertama.

Tampaknya jawaban itu keren. Tapi sejatinya, isi pidato motivasi Pak Menteri yang menyarankan para guru segera bertindak untuk melakukan perubahan tanpa mengikuti atau menunggu perintah kepala sekolah, cukup singkat, keren, impresif, namun penuh resiko.

Resiko itu datang, ketika ide atau gagasan gerakan perubahan tidak sejalan dengan pemikiran kepala sekolah atau guru-guru senior yang berpengaruh di sekolah.

Jika gagasan gerakan perubahan berupa kegiatan atau program guru penggerak tidak disetujui kepala sekolah jelas sangat beresiko tidak akan bisa berjalan lancarnya kegiatan yang diusung guru penggerak.

Dukungan dari pimpinan di sekolah, dari guru-guru lain, khususnya yang lebih senior, jelas penting. Jangan dianggap sepele.

Hal ini diakui dan direalisasikan oleh penyaji dari SMPN 2 Haurgeulis yang menyatakan langkah awalnya adalah bergerak dan mengkomunikasikan untuk menyakinkan kepala sekolahnya bahwa program yang digagasnya penting dan layak memperoleh dukungan (termasuk pendanaan).

Memang, seberapa berat, besar, dan jauhnya sebuah tujuan program, yang penting adalah langkah pertama. Maka ambillah langkah pertama, seperti disarankan Pak Menteri.

Namun, jangan lupa, pada langkah pertama ini ada tersembunyi pentingnya kemampuan/kompetensi komunikasi dari guru penggerak. Maksudnya, komunikasikanlah program Anda sedemikian meyakinkan kepada Kepala Sekolah dan guru-guru lainnya.

Semakin Anda mampu meyakinkan kepala sekolah dan guru-guru lain bahwa program Anda penting plus berguna, maka semakin mudah program itu dijalankan dan berhasil mencapai tujuannya, sebab pasti ada dukungan.

Namun, jika Anda gagal mengkomunikasikan program, berbagai hambatan akan menghadang. Di sinilah tesis pertanyaan dari Bu Ari Wahyuni, guru penggerak dari SMPN 1 Losarang.

Semoga semua program yang digagas para guru penggerak Indramayu angkatan 9 dapat dikomunikasikan secara cerdas dan berhasil kepada para Kepala Sekolah dan guru-guru lain di tempat para guru penggerak bertugas.

Berat? Susah? Berusahalah selalu meningkatkan kemampuan berkomunikasi. Ini sangat penting di balik pendoman bergerak: Jangan pernah menyerah!****

*Penulis adalah salah seorang Pegawai Fungsioal di Lingkungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Indramayu, alumni Program Doktor (S3) Pascasarjana Universitas Negeri Semarang, Indonesia.