mhnews.id.- Jika boleh kecewa terhadap hasil Survei Satus Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2022 maka sesungguhnya memang sangat mengecewakan. Betapa tidak, SSGI merilis prevalensi stunting Kabupaten Indramayu tahun 2022 naik cukup tajam.
Menurut SSGI prevalensi stunting Indramayu tahun 2022 berada pada level 21,1 persen. Angka ini di luar dugaan dan bahkan membuat shock jajaran Dinas Kesehatan Indramayu. Mengingat prevalensi stunting Indramayu tahun 2021 hanya 14,4 persen.
“Mengetahui hasil SSGI tahun 2022 yang menempatkan prevalensi stunting Indramayu pada level 21,1 itu membuat kami shock,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Indramayu, dr. Wawan Ridwan saat dikonfirmasi mhnews.id, Senin (30/1/2023).
Dijelaskan, kenaikan prevalensi stunting Indramayu versi SSGI 2022 itu memang benar adanya. Itu adalah data hasil survei yang dilakukan Kementrian Kesehatan. Pihaknya tidak bisa menolak angka tersebut walau pun sangat bertentangan dengan fakta.
Fakta yang dimaksud, tambah dr. Wawan Ridwan salah satunya adalah data penimbangan balita yang dilakukan di Posyandu. “Kami punya data jumlah balita se- Kabupaten Indramayu dan catatan penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badannya,” jelasnya.
Balita seluruh Indramayu itu berjumlah kurang lebih 119.000. Dari jumlah itu dalam catatan penimbangan berat badan dan terutama tinggi badan yang dijadikan indikator utama stunting, hanya ditemukan sekitar 3.797 balita yang masuk kategori stunting.
Jadi merujuk pada data tersebut, fakta balita stunting di Indramayu yang sebenarnya diperkirakan berkisar 3,49 persen. Angka ini diyakini jauh lebih valid karena menyajikan data yang sebenarnya, bukan sekadar diambil sampel sebagaimana SSGI.
Ditegaskan, prevalensi stunting pada level 3,49 persen itu selain lebih faktual karena berdasarkan hasil penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan seluruh balita, juga lebih mencerminkan hasil kerja keras semua pihak selama ini.
“Tim kita kan telah bekerja dengan maksimal. Juga ditambah ada aplikasi Gesit, ada program bapak asuh anak stunting, dan banyak lagi upaya yang dilakukan. Jadi angka absolut real stunting hasil penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan adalah 3.797 atau 3,49 persen. Data ini jauh lebih faktual,” tegasnya.
Sebagaimana diberitakan mhnews.id sebelumnya SSGI tahun 2022 menempatkan Kabupaten Indramayu di posisi ke- 11 kabupaten/kota se- Jawa Barat dengan prevalensi stunting 21,1 persen.
Hasil survei SSGI yang dari Kementerian Kesehatan ini menempatkan Provinsi Jawa Barat dengan angka prevalensi stunting sebanyak 20,02 persen. Artinya prevalensi stunting Indramayu berada di atas Jawa Barat.
Untuk prevalensi stunting Provinsi Jawa Barat tahun 2022 memang mengalami penurunan dari tahun 2021 yang berada pada level 24,5 persen. Survei SSGI tahun 2022 sendiri berlangsung selama 18 hari, mulai 1 s.d. 18 Juli 2022.
Survei dilakukan di 34 provinsi dan 514 kabupaten/kota termasuk Provinsi Jawa Barat dan Kabupaten Indramayu. Survei SSGI ini dalam pelaksanaannya melibatkan Dinas Kesehatan Provinsi, kabupaten/kota, Puskesmas, dan Poltekes.
Kabupaten Indramayu sendiri memiliki data yang menunjukkan adanya prestasi luar biasa karena berhasil menurunkan prevalensi stunting secara ekstrim. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Indramayu, tahun 2019 stunting berada pada angka 29,19 persen.
Berkat kerja keras semua pihak melalui program konvergensi stunting Indramayu bisa menurunkan secara ekstrim hingga pada level 14,4 persen pada tahun 2021. Atas keberhasilan ini pula, Bupati Nina Agustina mencanangkan zero stunting.
Penulis : Iir Sairoh
Editor : Wawan Idris




