MHNEWS.id.- Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati beberkan alasan pihaknya merencanakan menghapus bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite dan akan diganti dengan Pertamax Green 92.

Nicke mengatakan ada tiga alasan utama keputusan itu diberlakukan yang secara umum demi mendukung dan suksesnya Program Langit Biru tahap dua.

“Program yang pertama kita menaikkan BBM bersubsidi dari RON 88 menjadi RON 90. Nah itu kita melanjutkan sesuai dengan rencana program langit biru tahap dua, di mana BBM subsidi kita naikkan dari RON 90 jadi RON 92,” ujar Nicke saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VII, Rabu (30/8/2023).

Hal ini juga sejalan dengan peraturan yang diterbitkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), yakni Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 20 tahun 2017 tentang Baku Mutu Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Tipe Baru Kategori M, N, dan O.

Peraturan Menteri LHK tersebut mengatur bahwa kendaraan yang diproduksi sejak Oktober 2018 harus menggunakan BBM dengan spesifikasi minimal beroktan 91.

Sejalan dengan aturan di atas, alasan pertama, Nicke mengatakan Pertamax Green 92 memiliki emisi gas buang yang lebih baik dari Pertalite.

“Karena aturan KLHK menyatakan octan number yang boleh dijual di Indonesia minimum 91. Jadi ini sudah sangat pas, satu dari sisi aspek lingkungan bisa menurunkan karbon emisi,” ungkap dia.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) sudah merilis Peraturan Menteri ESDM Nomor 12 Tahun 2015 yang di dalamnya menyebutkan bahwa penggunaan bioetanol E5 diwajibkan pada 2020 dengan formulasi 5 persen etanol dan 95 persen bensin dan meningkat ke E20 pada 2025.

Jadi lanjut Nicke, penggunaan sumber energi alternatif yang ramah lingkungan merupakan sebuah mandat. “Kedua, mandatory bioetanol, bioenergy bisa kita penuhi,” kata dia.

Indonesia masih mengimpor minyak mentah dan BBM dari sejumlah negara. Nicke berharap dengan hadirnya BBM alternatif bisa berdampak langsung kepada pemenuhan energi dalam negeri.

“Dan yang ketiga kita menurunkan import gasoline,” ujar Nicke. Rencananya BBM itu dijual mulai tahun depan, tapi keputusan tetap berada di tangan pemerintah.

“Sehingga tahun depan hanya ada tiga produk, yang pertama adalah Pertamax Green 92 dengan mencampur RON 90 dengan 7 persen etanol, kedua Pertamax Green 95 mencampur Pertamax dengan 8 persen etanol, ketiga adalah Pertamax Turbo,” kata Nicke.

Soal penentuan harga, Nicke mengatakan Pertamax Green 92 itu berpotensi masuk dalam kategori Jenis BBM Tertentu (JBT) atau BBM bersubsidi dan Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP).

“Ketika ini menjadi program pemerintah, Pertamax Green 92, harganya pun tentu ini adalah regulated, tidak mungkin yang namanya JBKP harganya diserahkan ke pasar, karena ada mekanisme subsidi atau kompensasi di dalamnya,”

“Kami mengusulkan ini adalah karena itu lebih baik, kalau misalnya harga sama tetapi masyarakat mendapatkan lebih baik dengan octan number lebih baik sehingga itu untuk mesin juga lebih baik sekaligus emisinya juga menurun. Why not?.” Imbuhnya.

Penulis: Wawan Idris