SATU KATA, miris! Kata itulah ‘miris’ yang pertama tersirat dalam batin mhnews.id saat melihat kondisi rumah atau lebih tepatnya ‘gubuk’ yang dijadikan tempat tinggal sebuah keluarga tidak mampu di Kelurahan Paoman, Kecamatan Indramayu Kota, Jawa Barat.
Rumah ‘gubuk’ itu terbuat dari geribig (bilik atau dinding) bambu yang kini kondisinya sudah lapuk. Tak heran jika di sana sini berlubang besar dan kalau ada binatang liar dengan mudah dapat masuk. Atapnya pun bocor, lantai tanah sehingga kotor dan ketika hujan berubah jadi lumpur.
Sebagaimana ‘gubuk’ jangan ditanya ada tidaknya kamar mandi atau WC dan dapur. Fasilitas itu terlalu mewah. Kalau memasak cukup menggunakan tungku buatan dari bata, itupun berada di luar rumah dan tanpa atap. Jadi jika hujan praktis apinya akan padam dan masakan pun gagal.
Yang lebih memprihatinkan, kini rumah ‘gubuk’ itu sudah miring dan hampir roboh. Jika ada tiupan sedikit kencang dikhawatirkan ambruk. Itulah sebabnya untuk berjaga-jaga sang pemilik rumah ‘gubuk’ itu pun menyanggahnya dengan bambu seadanya.
Tomi (41) adalah pemilik rumah ‘gubuk’ itu. Ia bersama istri dan dua anaknya masih balita sudah hampir lima tahun menempatinya. Walau rumah ‘gubuk’ serba tidak layak namun Tomi bertahan karena tidak ada pilihan lagi. Baginya rumah itu adalah istana yang sangat berharga.

Gubuk Tomi yang tidak layak huni. Foto: Iir Sairoh/mhnews.id
Diceritakan Tomi, jika turun hujan air masuk ke dalam rumah, lantai pun tergenang dan berlumpur. “Jika turun hujan saya selalu berdoa kepada Allah, agar hujan turun jangan disertai angin. Saya takut rumah ini roboh,” tutur Tomi kepada mhnews.id saat ditemui di rumahnya, Senin (7/11).
Tomi mengaku hanya sebagai seorang pengamen. Ia hanya berpenghasilan rata-rata Rp 30.000,00 sampai Rp 50.000,00 sehari, itu pun tidak menentu. Pengasilan itu untuk makan-minum pun kadang tidak dapat mencukupi keluarganya apalagi bisa memperbaiki rumah ‘gubuk’nya.
Selain ngamen ia mau bekerja apa saja untuk mendapatkan tambahan uang. Karenanya, Tomi pun terkadang menjadi buruh serabutan. “Selain ngamen saya juga jadi kuli serabutan. Ya kadang ada yang nyuruh bersihin rumput. Saya sih mau aja yang penting halal,” tutur dia.
Ditanya mengenai bantuan dari pemerintah, Tomi mengaku selama ini pernah sekali mendapatkan Rp 600.000,00 yang merupakan dana Covid. Setelah itu Tomi tidak pernah lagi dapat bantuan apa pun baik bantuan PKH atau lainnya. Alasannya Tomi tidak memenuhi syarat penerima bantuan.
“Hanya satu kali dapat bantuan dana covid ambilnya di kantor pos. Setelah itu tidak dapat bantuan apa-apa lagi karena saya belum punya kartu vaksin, sebagai syaratnya. Saya kan punya penyakit bawaan, istri saya juga tidak bisa karena kondisinya begitu. Jadi belum vaksin,” ungkapnya.
Ketua RT tempat tinggal Tomi, Sohibul saat dikonfirmasi menjelaskan, pihak Kelurahan Paoman sudah mendatangi rumah Tomi dan akan diajukan program Rutilahu serta Baznas. “Cuma untuk realisasinya kami belum tau. Dan perkembangan pengajuan itu juga kami belum tau,” terang dia.
Namun demikian, Sohibul mengatakan, pihak kelurahan sudah memberikan bantuan berupa sembako serta seperangkat perlengkapan sekolah untuk anak Tomi. “Selain itu ada juga uang hasil swadaya masyarakat, ya lumayan bisa untuk memenuhi kebutuhan Tomi beberapa hari,” kata dia.
Penulis : Iir Sairoh
Editor : Wawan Idris




