Oleh Entang Sastraatmadja
Penulis adalah Ketua Harian HKTI Jawa Barat
UNTUK tahun 2023, puncak Panen Raya Padi diperkirakan bakal berlangsung sekitar Maret – April mendatang. Menteri Pertanian di pertengahan Januari 2023 telah mengawali panen raya padi di Karawang, Jawa Barat.
Dari berbagai catatan yang dirilis media, produksi padi per hektar di Karawang mencapai sekitar 8 ton gabah. Angka ini sangat mencengangkan, mengingat rata-rata produksi padi nasional sendiri berkisar antara 5 – 6 ton per hektar.
Apa yang dicapai para petani di Karawang betul-betul memberi harapan baru bagi pembangunan pertanian, khususnya dalam mengokohkan ketersediaan beras secara nasional.
Panen Raya Padi sebetulnya menarik untuk dicermati, karena selain merupakan ‘ritual’ yang ditunggu-tunggu para petani beserta keluarganya setelah jerih payah dan kerja keras selama 3 bulan lebih, namun juga merupakan kesempatan bagi para petani untuk meningkatkan nasib dan kualitas kehidupannya.
Artinya, kalau hasil panen petani dapat dijual dengan harga yang wajar dan menguntungkan, tentu potret buram petani padi pun bakal dapat diubah-arahkan. Dengan produksi dan produktivitas tinggi ditopang harga jual yang adil, dapat dipastikan kualitas hidup petani bakal semakin membaik.
Namun begitu, kita juga paham, keinginan yang demikian kelihatannya masih sebatas cita-cita. Bisa juga disebit “mengecat langit”. Pengalaman selama ini menunjukkan, ketika masim panen tiba, ternyata para petani jarang menikmati harga yang wajar dan adil.
Saat Panen Raya Padi tiba, harga jual gabah dan beras umumnya anjlok di bawah harga biasanya. Ujung-ujungnya, petani tetap saja menderita.
Akibatnya wajar, walau pun produksi padi mengalami peningkatan yang cukup signifikan setiap musim panen tiba, namun kesejahteraan petani padinya sendiri, seperti yang jalan di tempat alias tidak beranjak. Produksi yang meningkat dengan kesejahteraan petani terbukti tidak berkorelasi secara positif.
Hal ini memperlihatkan, tingginya produksi tidak otomatis meningkatkan kesejahteraan petani. Sebab, kesejahteraan petani itu sendiri ditentukan oleh banyak faktor. Salah satunya, faktor harga jual gabah dan beras, saat Panen Raya.
Kalau harganya anjlok, sangat sulit petani dapat hidup sejahtera dan bahagia. Maka solusi tawarannya adalah menjaga harga di tingkat petani tatkala panen raya agar tidak melorot tajam bahkan sebaliknya menguntungkan petani.
Bagaimana para petani supaya tidak menjadi permainan bandar atau tengkulak dalam menentukan harga jualnya. Pertanyaannya adalah, mampukah kita (Pemerintah)?
Jawabannya jelas, negara atau Pemerintah harus betul-betul hadir ditengah kesedihan petani. Negara penting mencerahkan para bandar dan tengkulak untuk menetapkan harga yang adil.
Dengan demikian petani dapat merasakan kenikmatan hasil panenannya, sedangkan bandar dan tengkulak pun merasa tidak dirugikan. Tugas negaralah untuk melahirkan harga yang adil tersebut.
Prinsip bandar atau tengkulak mencintai petani dan petani menghormati bandar atau tengkulak, sudah seharusnya menjadi bagian dari kehidupan masyarakat petani di perdesaan.
Kita ingin terjalin persahabatan yang utuh antara petani dengan tengkulak atau bandar. Mereka penting menjalankan nilai silih asah, silih asih, silih asuh dan silih wawangi.
Betapa indahnya kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat di Tanah Merdeka, sekiranya Petani dan Tengkulak, dapat mengedepankan rasa saling mencintai, menghormati, dan tentu saja saling menolong manakala dilanda kesusahan.
Jalinan persahabatan di antara petani dan tengkulak, bukan cuma keinginan, tapi juga merupakan fakta kehidupan yang dapat dirasakan. Petani dan tengkulak sudah seharusnya menjalankan filosofi simbiosis mutualisma, hubungan yang saling menguntungkan.
Sebentar lagi puncak Panen Raya Padi akan dilakukan oleh para petani. Penantian panjang sekitar tiga bulan lebih, membuat para petani was-was, apakah hasil panenan mereka akan dapat berlangsung sebagaimana yang mereka bayangkan?
Benarkan dalam Panen Raya yang puncaknya bakal berlangsung antara Maret – April 2023 tidak akan dinodai oleh adanya impor beras?
Petani pasti butuh jaminan dari Pemerintah yang telah berkomitmen untuk menstabilkan pasokan dan harga pangan. Petani memohon agar Pemerintah dapat memperlihatkan keberpihakannya kepada seluruh warga bangsa.
Pemerintah harus menindak tegas, sekiranya ada oknum-oknum yang ingin mempermainkan harga di tingkat petani. Apalagi jika ada yang ingin memarginalkannya.
Ini penting dicatat, karena jika impor beras tetap ditempuh di saat panen raya berlangsung, boleh jadi harga jual gabah atau beras di tingkat petani pun akan melorot.
Untuk itu, kita berharap agar Pemerintah dapat bersikap tegas, supaya sebulan menjelang puncak Panen Raya, impor beras dihentikan. Biarkan para petani merasakan kenikmatan harga atas kerja kerasnya sendiri.
Kini pokok masalahnya sudah tergambarkan. Petani tetap harus dibela dan dilindungi dari perlakuan oknum-oknum uang ingin meminggirkannya dari pentas pembangunan.
Kita berharap, semoga Pemerintah akan mampu melahirkan kebijakan terbaiknya dalam menghadapi Panen Raya yang beberapa bulan lagi kita jelang.




