SEKEDAR untuk mengingatkan kita semua, bahwa covid-19 yang mewabah pada tahun 2019-2021 itu nyata dan sangat membahayakan kehidupan manusia secara universal. Kalau pun saat ini covid-19 dinyatakan aman, namun sebaiknya tetap waspada.
Dampak Covid-19 yang mewabah seluruh dunia ini salah satunya adalah rontoknya perekonomian yang berimbas kepada masyarakat secara keseluruhan. Akibat covid banyak perusahaan yang gulung tikar dan masyarakat kecil semakin terpuruk.
Salah seorang yang secara nyata merasakan dampak covid-19 adalah Warsan. Bapak dari enam orang anak yang usianya sudah lanjut (lansia) ini hidupnya sangat terpuruk karena satu-satunya pekerjaan yang dapat menghasilkan uang harus terhenti.
“Belasan tahun saya bekerja sebagai tukang becak. Dari pekerjaan ini saya mendapatkan uang Rp 30.000,00 setiap hari. Kadang kalau sedang ramai dapat Rp 50.000,00,” ujar Warsan kepada MHNEWS.id, Senin (6/3/2023) saat ditemui di rumahnya yang sederhana.
Diakuinya dari penghasilannya itu ia bisa menapkahi istri dan enam orang anaknya. Tentu saja dengan pola sangat sederhana: makan apa adanya, tempat tinggal juga seadanya. Namun demikian Warsan mengaku tetap bersyukur karena keluarganya akur.
Akan tetapi kehidupan Warsan berubah drastis ketika covid-19 mewabah. Pria berusia 62 tahun ini terpaksa harus berhenti mengayuh becak karena memang tidak ada lagi orang yang memakai jasanya. Covid-19 memaksa orang untuk diam di rumah.
Setelah berhenti mengayuh becak, Warsan otomatis jadi pengangguran. Ia tidak lagi memiliki penghasilan. Uang pun tak ada. Padahal istri dan enam orang anaknya tetap harus makan. Warsan dan keluarganya pun semakin terpuruk.
“Waktu itu pandemi, saya nganggur, ga ada yang pake beca. Saya dari situ saya ga ada uang buat makan anak dan istri,” ungkap Warsan yang merupakan warga Desa Tegalurung, Kecamatan Balongan, Indramayu ini.
Setelah lama mengganggur Warsan ditawari saudaranya menjadi peternak jangkrik yang sudah lebih dulu menekuni usaha tersebut. Saudaranya itu memiliki peternakan jangkrik di Bangkir dan sukses.
Mendapat tawaran itu Warsan pun mencobanya. Saat itu Warsan hanya memiliki dua kotak untuk ternak. Sedangkan bibit atau telur jangkrik dipasok dari suplier dan suplier itu juga yang membeli jangkrik Warsan ketika panen usia satu bulan.
Pada saat panen pertama, setelah satu bulan pemeliharaan Warsan mendapatkan uang sebanyak Rp 1.500.000,00 s.d. Rp 2.000.000,00. Penghasilan itu diperoleh Warsan dari dua kotak jangkrik peliharaannya.
Harga jangkrik sendiri saat itu setiap kilonya berkisar Rp 20.000,00 s.d. Rp 35.000,00. “Jangkrik panen satu bulan sekali. Alhamdulilah untung dan dapat meningkatkan penghasilan,” ujar Warsan.
Berkat ketekunan dan keseriusannya, usaha ternak jangkrik Warsan terus berkembang. Sekarang Warsan telah memiliki 4 kotak kandang jangkrik. Dengan bantuan permodalan dari rumah zakat rencananya akan membuat 2 kotak lagi sehingga jumlahnya menjadi 6.
Kini kehidupan Warsan pun mulai membaik seiring usaha ternak jangkriknya yang makin maju. Buat Warsan Covid-19 yang semula menjadi musibah kini memberinya berkah. Kuncinya jangan menyerah. Warsan yang meskipun sudah lansia, ia tetap gigih berusaha.
Kegigihan Warsan dalam menekuni usaha ternak jangkriknya yang berbuah sukses diakui inspirator Rumah Zakat Tegalurung, Lastri Mulyani. Ia mengatakan, pihaknya turut serta mengantarkan Warsan pada kesuksesan.
Melalui program pemberdayaan masyarakat, ekonomi, dan kesehatan, Rumah Zakat pun menyentuh Warsan dengan memberikan modal usaha khusus kepada para lanjut usia (lansia).
“Tujuannya, supaya pada usia senjanya mereka tetap produktif dan mandiri. Jadi kita berdayakan lansia agar punya kegiatan usaha produktif, bisa menghasilkan, dan bisa mandiri. Kesuksesan Warsan pun bisa menjadi inspirasi para lansia lainnya,” jelas Lastri.
Penulis : Iir Sairoh
Editor : Wawan Idris




