mhnews.id.- Dilema tak berkesudahan selalu dialami para petani garam krosok di Kabupaten Indramayu. Akibat usahanya sangat tergantung pada alam, para petani tidak berdaya manakala musim panen garam tidak berpihak kepada mereka.
Seperti saat ini, pada saat harga tinggi mereka tetap tidak bisa menikmati untung karena stok garam yang para petani miliki tidak banyak. Hal ini terjadi karena sekarang sudah memasuki musim hujan, sehingga petani tidak lagi bisa memanen garam lagi.
Sebagaimana diketahui, panen garam hanya bisa maksimal bila cuaca panas alias sedang musim kemarau. Sayangnya pada tahun ini, musim kemarau di Indramayu juga berlangsung sebentar sehingga produksi garam petani sangat terbatas.
Seperti diakui Amin, salah satu petani garam krosok asal Kecamatan Losarang, Indramayu. Saat ini harga garam sedang tinggi-tingginya, yaitu Rp 3.000,00 sampai Rp 4.000,00/kg. Tingginya harga garam krosok ini di luar dugaan Amin dan sejumlah petani lainnya.
Para petani tidak menyangka harga garam akan naik cukup tinggi saat ini. Namun meskipun harga tinggi mereka tetap tidak bisa menikmati untung karena stok terbatas. Saat ini petani sudah tidak memiliki stok garam karena minimnya produksi sebagai akibat musim kemaraunya singkat.
‘’Sekarang apa yang mau dijual. Persediaan garam kita sudah habis. Produksi tidak ada, karena kemarau singkat ” keluh Amin kepada mhnews.id, Rabu (16/11).
Tak hanya Amin, banyak petani garam lainnya yang juga tidak bisa menikmati tingginya harga garam karena minimnya stok yang mereka miliki. Mereka juga sebelumnya memilih buru-buru menjual garamnya ketika harganya baru merangkak naik.
Kondisi itu dibenarkan petani garam lainnya asal Kecamatan Losarang, Ali Mustadi. Dia mengatakan, saat ini stok garam yang dimiliki petani sudah menipis. ‘’Kalaupun ada stok, paling di pengepul besar. Itupun paling tersisa sekitar 10-20 ton untuk kebutuhan sendiri atau buat pelanggan tetap saja,’’ terang Ali.
Ali mengungkapkan, harga garam saat ini sudah melebihi harga garam pada tahun 2016-2017, yang kala itu mencapai Rp 3.500 per kilogram. Saat itu, kondisi cuacanya hampir sama seperti sekarang, bahkan banjir dimana-mana.
Ali mengatakan, pada tahun ini musim kemarau berlangsung singkat. Selain itu, hujan pun kerap tiba-tiba turun di tengah musim kemarau sehingga mengganggu produksi garam yang sedang berlangsung di tambak.
Akibatnya, produksi garam petani pada tahun ini sangat rendah. Petani garam rata-rata hanya mampu memproduksi sekitar 20-30 persen.
‘’Biasanya petani menggarap lahan garam sekitar enam bulan dan bisa produksi sepanjang musim kemarau. Tapi sekarang dua bulan saja tidak nyampe. Masuk garapan bulan ketiga, hujan mulai turun,’’ tutur Ali.
Sejumlah petani garam, lanjut Ali, ada yang memaksa tetap berproduksi. Namun hasilnya, mereka malah merugi karena berkali-kali gagal panen.
Penulis : Iir Sairoh
Editor : Wawan Idris




