mhnews.id.- Proyek perbaikan senderan irigasi di Plosokerep, Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu yang pengerjaannya molor dan longsor ada di bawah tanggung jawab Dinas Suber Daya Air (SDA) Provinsi Jawa Barat.
Plt. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Indramayu, Ir. A. Budiharto, M.M. melalui pesan WhatsApp yang disampaikan kepada mhnews.id, Senin (7/11) menjelaskan, bahwa proyek perbaikan senderan saluran irigasi tersebut tanggung jawab provinsi (Dinas SDA Provinsi Jawa Barat).
“Kegiatan irigasi kita tidak ada di Terisi atau Plosokerep. Desa Plosokerep dari Bendungan Cipanas II dan memang ada perbaikan dan itu kegiatan provinsi. Ada kabar dari provinsi awal Desember akan rampung,” tulis staf Dinas Pertanian yang kemudian diteruskan Budiharto kepada mhnews.id.
Sejauh ini Dinas SDA Provinsi belum berhasil dikonformasi atas keterlambatan perbaikan saluran irigasi tersebut, terutama mengenai kondisi senderan yang longsor padahal masih dalam tahap pengerjaan.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, akibat terlambatnya perbaikan senderan saluran irigasi para petani di Desa Plosokerep, Kec. Terisi dan Kec. Cikedung mengalami keterlambatan tanam padi musim rendeng 2022-2023. Molornya proyek ini menyebabkan tidak adanya pasokan air.
Ketua Kelompok Tani Bina Tani Desa Plosokerep, Rusdani mengungkapkan, keterlambatan tanam ini disebabkan kurangnya pasokan air. Diakui, saat ini hujan memang sudah turun, akan tetapi debitnya masih jauh dari mencukupi kebutuhan. Dan biasanya, kekurangan debit air itu dipasok dari irigasi.
“Hujan memang sudah turun. Tapi pasokan air masih kurang. Biasanya dibantu dengan air irigasi. Masalahnya sekarang, irigasinya sedang diperbaiki tetapi tidak kunjung selesai sehingga saluran itu tidak bisa mengalirkan air,” katanya Rusdani kepada mhnews.id, Jum,at (4/11).
Terlambatnya tanam dikhawatiran akan berdampak pada produksi padi Indramayu. Desa Plosokerep ada sekitar 600 hektar belum lagi disejumlah desa lainnya di Kecamatan Terisi dan Cikedung. Jika terlambat tanam maka target produksi panen rendeng dipastikan akan turun secara signifikan.
Selama ini Kabupaten Indramayu menjadi andalan pengadaan pangan nasional, bahkan disebut sebagai Lumbung Padi Nasional. Namun dengan adanya keterlambatan tanam yang luasnya mencapai ratusan hektar kali ini dikhawatirkan produksi padi nasional akan terganggu.
Rusdani mengakui, sejumlah petani di desanya memang ada yang akhirnya mulai melakukan olah tanah kering. Hal itu dilakukan sambil menunggu datangnya air. Upaya ini sebagai ikhtiar terakhir agar tidak terjadi keterlambatan yang lebih parah sehingga mengganggu proses tanam selanjutnya.
Menanggapi keluhan petani, Wakil Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Indramayu, Sutatang saat dikonfirmasi membenarkan hambatan pelaksanaan musim tanam rendeng yang kini dialami para petani di wilayah Kecamatan Terisi dan Cikedung tersebut.
Penulis : Iir Sairoh
Editor : Wawan Idris




