mhnews.id.- Kaum perempuan di Indramayu yang berstatus sebagai istri lebih memilih menyandang predikat janda daripada punya suami tetapi hidup dalam kesulitan ekonomi.
Hal ini terungkap dari angka cerai gugat atau perceraian yang diajukan oleh istri di Pengadilan Agama Kabupaten Indramayu. Sepanjang tahun 2022 di Indramayu tercatat kasus cerai gugat sebanyak 5.669.
Angka cerai gugat ini lebih banyak dibanding cerai talak atau perceraian yang diajukan suami sebanyak 2.102 kasus. Perbandingannya lebih dari 50 persen. Banyaknya istri yang menggugat cerai ini karena faktor ekonomi.
Jumlah keseluruhan angka perceraian Indramayu sendiri sepanjang tahun 2022 mencapai 7.771 kasus. Jumlah ini menempatkan Indramayu pada peringkat keempat nasional dan peringkat kedua Jawa Barat.
“Angka perceraian di Kabupaten Indramayu memang cukup tinggi. Ini harus jadi bahan perhatian semua pemangku kepentingan untuk menekan angka perceraian,” kata Dindin Syarief Nurwahyudin sebagaimana dikutip Republika, Selasa (17/1/2023).
Angka perceraian di Kabupaten Indramayu itu menempati urutan nomor dua tertinggi di Jabar setelah Kabupaten Bogor. Sedangkan secara nasional, Kabupaten Indramayu menempati urutan keempat setelah Surabaya, Kabupaten Malang dan Kabupaten Bogor.
Dindin mengungkapkan, penyebab paling dominan dari perceraian di Kabupaten Indramayu itu karena faktor ekonomi. Menurutnya, faktor ekonomi yang rendah akhirnya memicu perselisihan di antara pasutri hingga berujung perceraian.
Selain itu, ekonomi yang rendah juga mendorong salah satu pasangan, terutama istri, untuk bekerja ke luar negeri sebagai PMI dengan maksud untuk memperbaiki ekonomi.
Namun pada kenyataannya, meski secara ekonomi bisa menjadi solusi, keberangkatan istri ke luar negeri untuk bekerja dalam waktu lama akhirnya mengganggu ketahanan rumah tangga mereka.
Indramayu berdasarkan catatan BPS pada Maret 2021 termasuk kabupaten miskin ekstrim ketiga di Jawa Barat. Jumlah warga miskin di daerah Lumbung Pangan Nasional yang juga kaya akan sumber daya laut, minyak, dan gas bumi mencapai 13,04 persen.
Selain ekonomi terungkap pula penyebab tingginya perceraian di Indramayu, yaitu pernikahan dini atau di bawah umur. Pernikahan di bawah umur ini sudah lama terjadi namun sampai kini belum ada tanda-tanda berkurang, apalagi hilang.
Penulis : Iir Sairoh
Editor : Wawan Idris




