mhnews.id.- Seringkali pada saat sedang tidur pada malam hari tiba-tiba terbangun karena sesuatu hal. Mimpi buruk, atau sekedar ingin buang air, atau karena apa pun. Ketika ini terjadi sebaiknya sebelum melakukan apa pun memanjatkan doa sebagai berikut:
لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، الحَمْدُ للهِ، وسُبْحَانَ اللهِ، ولاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ،ولاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ
Artinya: Tidak ada Illah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allâh semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan dan segala pujian. Dia Maha kuasa atas segala sesuatu.
Segala puji hanya milik Allâh Azza wa Jalla, Maha suci Allâh, Tidak ada Illah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allâh, Allâh Maha besar, Tidak ada kemampuan dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allâh.
(Kemudian setelah itu berdoa dan bermunajat kepada Allâh Azza wa Jalla sesuai kebutuhan). Doa ini dibaca saat terbangun, sebelum melakukan aktivitas apapun.
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa salam menjelaskan bahwa barangsiapa terbangun dari tidurnya di malam hari lalu membaca doa di atas, kemudian setelah itu dia berdoa atau memohon ampun, niscaya doanya akan diijabah oleh Allâh Azza wa Jalla.
Dan jika dia bangun berwudlu lalu mengerjakan shalat, maka niscaya shalatnya diterima oleh Allâh Azza wa Jalla. Ibnu Batthal rahimahullah mengatakan bahwa seyogyanya orang yang telah sampai kepadanya hadits ini untuk mengamalkannya dan mengikhlaskan niatnya dalam mengamalkannya.
Ketika menjelaskan hadits ini, al-hafizh Ibnu Hajar rahimahullah membawakan sebuah faidah yang menarik seputar perhatian terhadap dzikir ini. Dari Abu Abdillah al-farabri rahimahullah, salah seorang yang meriwayatkan hadits dari Imam al-Bukhâri, dia mengatakan:
“Saya membaca dzikir ini ketika aku terbangun, kemudian setelah itu aku tidur. Dalam tidur itu, aku didatangi oleh seseorang dan membacakan ayat:
وَهُدُوا إِلَى الطَّيِّبِ مِنَ الْقَوْلِ وَهُدُوا إِلَىٰ صِرَاطِ الْحَمِيدِ
Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik dan ditunjuki (pula) kepada jalan (Allah) yang Terpuji.
Penulis : Wawan Idris
Sumber: Fiqhul Ad’iyati wal Adzkâr, Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin al-Badr, 3/80




