ALHAMDULILLAHI ROBBIL ‘ALAMIN. Allahumma sholli ‘ala Muhammad, wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam. “Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (Q.S. Al-Hajj: 11).

Begitu tak terhingganya kasih sayang Allah Azza wa Jalla kepada hamba-hamba-Nya. Allah Azza wa Jalla tidak menghendaki hamba-hamba-Nya lalai dalam kehidupan dunianya sehingga menjadi orang yang rugi secara nyata.

Sebagaimana firman-Nya dalam Q.S. Al-Hajj: 11 di atas, orang yang rugi secara nyata adalah mereka yang mengalami kerugian di dunia dan akhirat.  “Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.”

Tidak sampai di situ, Allah Azza wa Jalla juga mengingatkan kepada kita agar senantiasa waspada dalam mengisi kehidupan di dunia ini:  “Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdaya kamu.” (Q.S. Luqman: 33).

Kebanyakan kita, dasarnya akan selalu tergoda kehidupan dunia: harta, jabatan, kesenangan, termasuk anak-anak. Banyak orang rela menyibukan diri untuk meraih dunia tersebut. Bahkan tidak jarang ada yang melupakan halal dan haram demi meraihnya.

Sibuk dengan urusan dunia demi sesuatu yang bermanfaat, memperbanyak amal kebajikan, dan sesuai syariat tidaklah dilarang dalam Islam. Mereka yang demikian itu dengan ridho Allah Azza wa Jalla akan beruntung, baik di dunia dan di akhirat.

Saking sayangnya, Allah Azza wa Jalla melarang kita untuk terperdaya dengan kehidupan dunia. Ketika sudah tertipu dengan dunia, maka sia-sialah waktunya, terluput dari berbagai amal shalih, karena dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau.

Orang yang tertipu dengan dunia akan menghabiskan waktunya untuk dunia ini. Siang dan malam, hanya untuk mengumpulkan harta, bermegah-megah, bersenang-senang. Padahal semua kesenangan dunia itu hanya sedikit dan sangat sebentar.

Islam tidak melarang ummatnya mengejar dan meraih dunia selagi untuk dimanfaatkan dalam ketaatan kepada Allah Azza wa Jala. Allah Azza wa Jalla menciptakan dunia ini dan apa yang ada di dalamnya untuk hamba-hambaNya yang beriman.

“Katakanlah, “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rizki yang baik?” Katakanlah, “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat.” (Q.S. Al-A’raf: 32).

Namun, sekali lagi, bukan berarti kita sibuk dengan kehidupan dunia dan lalai dengan kehidupan akhirat. Sibukanlah dunia ini dengan amal kebajikan dan dalam ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla. Dengan demikian maka akan termasuk dalam golongan orang-orang yang beruntung.

“Allah meluaskan rizki dan menyempitkannya bagi siapa yang dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).” (Q.S. Ar-Ra’du: 26).

Penulis  : Wawan Idris