Oleh Dr. Supriyanto Sayama
(E-mail: hujandikm97@gmail.com)
SEAKAN menyadari bahwa upaya memberlakukan kurikulum baru kepada masyarakat tidaklah akan mudah, pihak Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (kemdikbudristek) telah mengatur Strategi Pengimplementasian Kurikulum Merdeka.
Strategi disusun dan dilaksanakan dengan harapan secara perlahan namun pasti Kurikulum Merdeka akan dilaksanakan di seluruh Indonesia. Bagaimanakah strategi yang dimaksud? Tulisan pendek ini hendak memaparkan secara sekilas tentang Strategi Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM).
Secara garis besar, terdapat dua jalur pengimplementasian IKM. Jalur pertama, melalui Program Sekolah Penggerak (PSP) yang telah dilaksanakan oleh beberapa angkatan, dan melalui Program Implementasi Kurikulum Merdeka secara Mandiri (IKM Mandiri).
Seperti telah penulis ungkapkan pada tulisan lainnya yang diterbitkan media ini (lihat https://mhnews.id/2022/11/tiga-keunggulan-kurikulum-merdeka/ ), bahwa implementasi pada tahap pertama, sejak tahun ajaran 2020/2021 Kurikulum Merdeka telah diimplementasikan di hampir 2.500 sekolah yang mengikuti Program Sekolah Penggerak (PSP).
Selain itu ada 901 SMK Pusat Keunggulan (SMK PK) sebagai bagian dari pembelajaran dengan paradigma baru. Kurikulum tersebut diberlakukan untuk jenjang TK-B, SD dan SDLB Kelas I dan IV, SMP dan SMPLB kelas VII, SMA dan SMALB serta SMK kelas X.
Jalur kedua, melalui Implementasi Kurikulum Merdeka secara Mandiri (IKM Mandiri). IKM Mandiri terdiri dari tiga (3) pilihan, yaitu Mandiri Belajar, Mandiri Berubah, dan Mandiri Berbagi.
IKM Mandiri ini diberlakukan sejak jenjang TK-B, kelas I, IV, VII, dan X. Secara operasional hal ini diatur oleh Surat Edaran BSKAP Kemendikburistek Nomor 2774/H.H1/KR.00.01/2022 tentang Implementasi Kurikulum Merdeka Secara Mandiri Tahun Ajaran 2022/2023.
Surat edaran tersebut mengatur bahwa IKM Mandiri Belajar menerapkan beberapa bagian dan prinsip Kurikulum Merdeka tanpa mengganti Kurikulum Satuan Pendidikan yang sedang dilaksanakan.
IKM Mandiri Berubah, beroperasi dengan menerapkan Kurikulum Merdeka menggunakan perangkat ajar yang sudah disediakan khusus untuk satuan pendidikan PAUD, kelas I dan IV di jenjang SD, kelas VII di jenjang SMP dan kelas X di jenjang SMA. IKM Mandiri Berbagi, beroperasi menerapkan Kurikulum Merdeka dengan mengembangkan sendiri perangkat ajar untuk satuan pendidikan PAUD, kelas I, IV, VII, dan X.
Enam Strategi IKM
Jika hendak dirinci, ternyata Kemdikbudristek telah memberikan peluang kepada masyarakat untuk bisa menerapkan Kurikulum Merdeka melalui enam strategi. Setiap strategi memiliki latar belakang dan kondisi yang berbeda.
Oleh karena itu bagi perorangan dan lembaga pendidikan yang akan mengimplementasikan Kurikulum Merdeka dapat memilih salah satu atau lebih, atau kombinasi darl beberapa strategi yang diperkirakan sesuai dengan latar belakang dan kondisi masing-masing.
Strategi pertama, Guru dan Kepala Sekolah belajar secara mandiri melalui Platform Merdeka Mengajar (PMM). Melalui PMM guru-guru dan Kepala Sekolah dapat memanfaatkan fitur Belajar secara mandiri dan dapat menentukan sendiri waktu serta tempatnya.
Dalam Pelatihan Mandiri, guru dapat memanfaatkan sebesar-besarnya semua fasilitas yang ada di PMM. Caranya sangat mudah, sebab aplikasi ini sudah tersedia di Playstore semua jenis HP Android.
Strategi kedua, Guru dan Kepala Sekolah belajar tentang Kurikulum Merdeka dengan mengikuti Seri Webinar. Dalam hal ini banyak media sosial yang telah disajikan oleh berbagai perusahaan kapitalisasi besar yang menyediakannya seperti Youtube.
Berbagai seri webinar tentang kurikulum merdeka sudah sangat banyak yang di-upload di media tersebut. Mereka yang berminat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang kurikulum merdeka dapat menyimaknya kapanpun mereka mau.
Strategi ketiga, Guru dan Kepala Sekolah belajar Kurikulum Merdeka di dalam komunitas belajar dan melakukan pemantauan aktivitasnya. Semakin canggihnya teknologi informasi telah membuat semakin banyak komunitas belajar yang bisa diikuti sesuai minat.
Dengan memilih dan bergabung kepada salah satu komunitas, maka anggota komunitas dapat mendiskusikan dan menyelesaikan berbagai masalah pembelajaran yang mereka hadapi saat mengimplementasikan Kurikukulum Merdeka. Tidak hanya itu, tetapi di antara anggota juga dapat berbagi praktik baik dan saling memperkuat pemahaman.
Strategi keempat, Guru dan Kepala Sekolah dapat belajar praktik baik melalui para narasumber yang sudah direkomendasikan. Narasumber yang dimaksud terdiri dari guru dan kepala sekolah. Guru yang menjadi narasumber merupakan mereka yang telah memiliki praktik baik dalam pembelajaran menggukanan Kurikulum Merdeka.
Kepala sekolah yang menjadi narasumber merupakan kepala sekolah yang telah memiliki praktik baik dalam kepemimpinan melaksanakan kurikulum merdeka.
Strategi kelima, para Guru dan Kepala Sekolah yang menginginkan materi lebih jelas tentang implementasi Kurikulum Merdeka dapat belajar memanfaatkan Pusat Layanan Bantuan (Helpdesk) untuk mendapatkan informasi lebih pada nomor HP +6281281435091. Nomor tersebut disediakan oleh Kemendikbudristek.
Strategi keenam, para Guru dan Kepala Sekolah yang ingin menambah wawasannya agar semakin luas, dapat belajar dengan cara bekerja sama dengan mitra pembangunan untuk implementasi Kurikulum Merdeka.
Sayang sekali untuk strategi keenam ini, bagi daerah-daerah tertentu, kesulitan untuk mencari mitra pembangunan yang siap memberikan dana atau minimal bekerjasama dalam membantu Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. Tetapi, sulit bukan berarti tidak bisa dan tidak ada. Seiring waktu tentu akan ada mitra yang siap membantu.****
*Penulis adalah salah seorang Pegawai di Lingkungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Indramayu, alumni Program Doktor (S3) Pascasarjana Universitas Negeri Semarang, Indonesia.




