MHNEWS.id.- Dalam sepekan ini masyarakat dunia, terutama ummat Islam terus menyorot projek pembangunan gedung berbentuk kubus besar di Arab Saudi yang digagas Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MbS).
Faktor utama yang jadi sorotan ummat Islam adalah karena gedung berbentuk kubus besar itu mirip dengan Ka’bah. Karena miripnya bahkan tidak sedikit yang menilai jika gedung itu merupakan ‘Ka’bah Baru’.
Melansir cnbcindonesia.com Gedung The Mukaab yang memuat kota di dalam kota itu, disindir “ka’bah baru” Arab Saudi. Untuk mengetahui lebih jauh berikut 9 fakta The Mukaab yang akan berada di distrik New Murabba.
1. Pusat Kota Baru
The Mukaab akan menjadi pusat kota baru. Mengutip Saudi Press Agency (SPA) Senin (20/2/2023), pembangunan akan dimulai di area seluas 19 km persegi. Proyek ini akan menawarkan lebih dari 25 juta meter persegi luas lantai.
Bangunan terdiri dari 104.000 unit hunian, 9.000 kamar hotel, lebih dari 980.000 meter persegi ruang ritel. Ada pula 1,4 juta meter persegi ruang kantor, 620.000 meter persegi aset rekreasi, serta 1,8 juta meter persegi ruang fasilitas komunitas.
“Salah satu yang menarik dari pengembangan ini adalah struktur Mukaab, yang digambarkan sebagai tujuan imersif pertama di dunia yang menawarkan pengalaman yang diciptakan oleh teknologi digital dan virtual dengan holografi terbaru,” tulis Business Traveler.
2. Sumber Pendanaannya
Proyek Mukaab dipimpin oleh Perusahaan Pengembangan Murabba (NMDC). Dana yang dipakai berasal dari Dana Investasi Publik Saudi (PIF).
Namun mengutip Amwaj Media, PIF tidak mengungkapkan sumber pendanaan untuk membangun distrik pusat kota baru yang besar itu. Hal ini kemudian dipertanyakan sejumlah pihak.
3. Terkait Visi Saudi 2030
Selama ini Arab Saudi dikenal sebagai negara yang ekonominya bergantung dengan minyak. Namun saat Raja Salman bin Abdul Aziz, ayah MbS, menjadi pemimpinnya di 2015 negara itu mengumumkan Visi Saudi 2030.
Visi Saudi 2030 sendiri merupakan sebuah gambaran perekonomian baru Arab Saudi di tahun 2030. Dalam visi itu, Raja Salman menginginkan agar ketergantungan negara itu terhadap migas dikurangi dan sektor ekonomi terdiversifikasi.
Reformasi dirancang untuk membuka diri terhadap dunia termasuk aturan untuk mengakomodasi investasi di sektor pariwisata. Terobosan lain adalah e-visa dapat dikeluarkan untuk pelancong hanya dalam waktu lima menit.
4. Bagian 6 ‘Proyek’ Gila MbS
Sebenarnya, ini bukan proyek megah pertama yang diumumkan Arab Saudi dalam beberapa tahun terakhir.
Sebelumnya, Arab Saudi telah memulai setidaknya lima proyek raksasa lain mulai dari kota futuristik NEOM, proyet Laut Merah, resort mewah Amaala di pantai Barat Laut Arab Saudi, proyek warisan budaya di Ad Diriya, dan taman hiburan mewah Qiddiya.
5. Akan Bersaing dengan Dubai dan Doha
Pembangunan Mukaab, termasuk yang lainnya, kemudian dikaitkan dengan cara Arab Saudi memenangkan lomba melawan Dubai dan Ibu Kota Qatar, Doha, yang telah lebih dulu mencoba memposisikan diri sebagai pusat pariwisata dan investasi regional.
“Menjadi yang kedua dalam lomba selalu merupakan tempat yang sulit untuk memulai ketika Anda ingin menjadi pemimpin,” kata Direktur Program Kebijakan Teluk dan Energi di The Washington Institute, Simon Henderson, dikutip CNN International.
6. Kontroversi Mirip Ka’bah
Mukaab memicu kritikan karena kemiripan bangunan dengan Ka’bah, bangunan suci umat Islam di kota lain Arab Saudi, Mekkah. Ini memicu reaksi terhadap apa yang mungkin diharapkan oleh MbS.
“Bagi saya, saya hanya tahu Murraba mengacu pada Ka’bah,” kata Direktur Democracy for the Arab World Now (DAWN) Abdullah Al-Aoudh dalam sebuah cuitan.

Proyek ambisius MbS, bangunan mirip Ka’bah ini menuai kritijk ummat Islam dunia. Foto: newmurabba.com
Kritikan juga datang dari seorang komedian Mesir, Adel Imam. Menyamakannya dengan bentuk Ka’bah, ia juga menyindir pembângunan Mukaab bak agama baru. “Mereka mengikuti agama baru, apa yang harus kita lakukan?” ujarnya.
7. Disebut Kapitalisme dan Tanda Kiamat
Arab Saudi selama ini dikenal sebagai negara yang konservatif dan menjunjung nilai-nilai Islam. Namun pembangunan ini membuat sejumlah pihak menilai pemerintah semakin kapitalis.
“Membangun ‘Ka’bah baru’ (mukaab) secara eksklusif dikhususkan untuk kapitalisme di depan mata,” kata reporter intercept Murtaza Hussain.
Proyek ini juga dikaitkan sengam tanda kiamat oleh netizen. Ada yang menyebut pembangunan gedung pencakar langit merupakan salah satu tanda-tanda kiamat.
“Nabi Muhammad (SAW) mengatakan salah satu tanda kiamat adalah bahwa Anda akan melihat ‘para gembala bersaing dalam membangun gedung-gedung tinggi,” tulis pengguna Twitter @2015 Jmr seraya menggaitkan dengan unggahan PIF.
8. Kampanye ‘Buang Isu’ Pelanggaran HAM
Hal ini kemudian dikaitkan dengan kampanye “narasi” baru Arab Saudi untuk menjauhkan diri dari stereotip pelanggaran HAM yang kerap diberitakan media Barat.
“Dulu, Anda akan berdiskusi negatif tentang Arab Saudi yang berafiliasi dengan pelanggaran hak asasi manusia,” kata peneliti di Institut Studi Timur Tengah King’s College London, Andreas Krieg.
“Tapi sekarang mereka mencoba mendorong narasi baru untuk menjadi negara pembangunan dan negara yang dapat membangun kota-kota futuristik,” ujarnya.
9. Gaet Pelancong Non Muslim
Proyek ini juga diyakini untuk menggaet pelancong non Muslim datang ke Arab Saudi. Arab Saudi memang selama ini bergantung pada pariwisata Islam, terutama haji dan umrah.
Mengutip Global Destination Cities Index yang dirilis oleh Mastercard, Arab Saudi selama ini memang berhasil memperoleh pendapatan sebesar US$20 miliar atau Rp 300 triliun, dari turis Muslim pada 2018 melalui penyelenggaraan ibadah haji.
Di 2022 lalu, pendapatan Arab Saudi dari haji diperkirakan bisa mencapai US$30 miliar.
Penulis: Wawan Idris




