mhnews.id.- Rumah milik Tomi, warga Kelurahan Paoman, Kecamatan Indramayu Kota, Jawa Barat yang kondisinya sangat tidak layak huni akan segera direnovasi. Bupati Indramayu, Nina Agustina melalui Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Pertahanan (DPKPP) akan meninjau lokasi guna melakukan verifikasi dan pendataan.
Sekertaris Dinas Perumahan Kawasan Pemukiman dan Pertahanan (DPKPP) Kabupaten Indramayu, Edi Satoto kepada mhnews.id, Selasa (8/11) menjelaskan, pihaknya akan segera merenovasi rumah Tomi melalui program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) di tahun 2022.
“Ibu Bupati Nina sangat respon. In syaa Allah kita segara merenovasi melalui program Rutilahu yang dananya bersumber dari Corporate Social Responsibility (CSR) yaitu sumbangan dari pengusaha yang berinvestasi di Indramayu tahun ini juga,” jelas Edi Satoto saat ditemui di ruang kerjanya.
Dijelaskan Edi Satoto, anggaran pembangunan Rutilahu untuk satu unitnya sebesar Rp 20.000.000,00 dengan rincian Rp 2,5 juta untuk upah tukang dan sisa Rp 17,5 juta untuk pembangunan fisik, meliputi konstruksi, konsep Aladin, (atap, lantai, dan dinding), dan kamar mandi.
“Yang diutamakan kontruksi harus kuat ada tiang penyangga, biar seperti bangunan layaknya, dan syarat lain rumah sehat harus di buat jamban,” tegasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Tomi terpaksa tinggal di rumah ‘gubuk’ yang terbuat dari geribig (bilik atau dinding) bambu yang kini kondisinya sudah lapuk. Tak heran jika di sana sini berlubang besar dan kalau ada binatang liar dengan mudah dapat masuk. Atapnya pun bocor, lantai tanah sehingga kotor dan ketika hujan berubah jadi lumpur.
Sebagaimana ‘gubuk’ jangan ditanya ada tidaknya kamar mandi atau WC dan dapur. Fasilitas itu terlalu mewah. Kalau memasak cukup menggunakan tungku buatan dari bata, itupun berada di luar rumah dan tanpa atap. Jadi jika hujan praktis apinya akan padam dan masakan pun gagal.
Yang lebih memprihatinkan, kini rumah ‘gubuk’ itu sudah miring dan hampir roboh. Jika ada tiupan sedikit kencang dikhawatirkan ambruk. Itulah sebabnya untuk berjaga-jaga sang pemilik rumah ‘gubuk’ itu pun menyanggahnya dengan bambu seadanya.
Tomi (41) adalah pemilik rumah ‘gubuk’ itu. Ia bersama istri dan dua anaknya masih balita sudah hampir lima tahun menempatinya. Walau rumah ‘gubuk’ serba tidak layak namun Tomi bertahan karena tidak ada pilihan lagi. Baginya rumah itu adalah istana yang sangat berharga.
Diceritakan Tomi, jika turun hujan air masuk ke dalam rumah, lantai pun tergenang dan berlumpur. “Jika turun hujan saya selalu berdoa kepada Allah, agar hujan turun jangan disertai angin. Saya takut rumah ini roboh,” tutur Tomi kepada mhnews.id saat ditemui di rumahnya, Senin (7/11).
Penulis : Iir Sairoh
Editor : Wawan Idris




