MHNEWS.ID.- Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menegaskan peran orang tua sangat penting untuk mencegah perilaku anak-anak yang kerap menggunakan knalpot bising.

Namun kenyataannya, sikap sebagian orang tua dinilai justru membiarkan, bahkan mendukung, anak-anaknya menggunakan knalpot bising.

Ia mengaku pernah menegur seorang siswa SMP yang menggunakan knalpot brong, namun justru mendapat protes dari orang tua siswa tersebut.

“Kemudian yang kedua, sangat merugikan orang lain. Tetapi di balik itu, ada orangtua yang jadi sponsor,” ungkap Dedi di Mapolda Jabar, Rabu (18/2/2026) saat menghadiri pemusnahan barang bukti termasuk knalpot brong.

“Saya pernah, anak SMP kelas 2 itu saya tegur, kemudian saya suruh dengerin tuh knalpotnya seperti apa. Setelah itu orang tuanya marah pada saya. Karena merasa anaknya diperlakukan tidak tepat,” sambungnya.

“Saya katakan, ‘Ibu, kalau besok anak Ibu terlibat tawuran atau kecelakaan, Ibu akan rugi’,” tambah Dedi.

Knalpot Brong dan Risiko Masalah Sosial

Berdasarkan pengamatannya, Dedi menilai sebagian besar remaja maupun orang dewasa yang terlibat dalam perilaku sosial menyimpang berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah.

Menurut dia, ketika seorang anak terlibat tawuran atau kecelakaan, beban ekonomi keluarga akan semakin berat karena harus menanggung biaya pengobatan maupun penyelesaian konflik.

“Problemnya apa? Problemnya orang tuanya akan semakin miskin. Kenapa? Anaknya knalpot brong, terlibat tawuran, mengalami kecelakaan, orang tuanya bebannya makin banyak untuk nebus biaya kompensasi perdamaian antar keluarga dan sejenisnya,” ucap Dedi.

Ia juga mengaitkan temuan tersebut dengan pengalamannya dalam program barak militer yang digagasnya.

Dedi menyebut, hampir rata-rata anak yang bermasalah berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi lemah.

Penulis: Wawan Idris