mhnews.id.- Di tengah kesulitan dan ketidakpastian usaha imbas kenaikan harga BBM sejak dua hari lalu ada pihak-pihak yang justru meraup cuan atau untung, mereka adalah para spekulan.
“Biasanya jika terjadi kenaikan BBM yang diuntungkan itu spekulan. Mereka menahan order, permintaan pengiriman bahan baku pun tertahan di tangan spekulan,” ungkap Manajer Kerupuk Padi Kapas, Dody kepada mhnews.id, Selasa (6/9).
Dijelaskan, tertahannya orderan bahan baku memang beralasan. Mereka (para spekulan) menunggu adanya perhitungan tambahan biaya pengiriman dan kenaikan harga bahan dasar. “Ini yang menjadi beban berat pengusaha pengrajin kerupuk,” keluhnya.
Diungkapkan, spekulan biasanya menunda pengiriman barang. “Mereka menunggu dulu ada kenaikan harga. DO ditahan karena mungkin mereka juga menghitung ulang biaya operasional, kan BBM-nya naik,” ungkap Dody.
Jika itu terjadi, menurut Dody biasanya pengrajin kerupuk akan mengurangi produksinya, hanya menghabiskan stok bahan baku yang masih tersisa. Namun hal ini akan berimbas kepada tenaga kerja borongan.
“Karena biasa dalam satu kali produksi, normalnya satu ton kerupuk yang dihasilkan, namun dengan kondisi ini, otomatis produksi kerupuk berkurang,” paparnya.
Dody menjelaskan, dalam proses produksi kerupuk dibutuhkan waktu yang cukup lama, sekitar enam hari terhitung mulai pengolahan ikan menjadi fillet, proses pembuatan adonan, perebusan, pengirisan, sampai proses pengeringan, dan paking.
Jika bahan baku tersedia, proses itu bisa berjalan setiap hari, karena ada beberapa tim tenaga kerja Borongan. Namun jika bahan baku terbatas untuk demi kebersamaan dengan tenaga kerja, maka produksi dibagi rata, hingga semua tenaga kerja mendapatkan upah, tidak ada yang mengganggur atau berhenti bekerja.
“Kita gak mau pekerja kehilangan pekerjaanya, karena mereka warga sekitar, bekerja bersama buat nambah inkam mereka, jadi ya produksi harus jalan,” terang Dody.
Penulis : Iir Sairoh
Editor : Wawan Idris




