mhnews.id.- Sudah hampir tiga pekan harga beras di pasar tradisional Indramayu mengalami kenaikan yang signifikan sehingga masyarakat dan bahkan pedagang pun mengeluh karena daya beli berkurang.
Kenaikan harga beras yang terus meroket ini juga diiringi dengan seretnya pasokan. Hal ini diakui pedagang, bahwa saat ini sangat sulit memperoleh pasokan beras sehingga stok pun semakin menipis.
“Beras yang dijual saat ini adalah stok yang tersisa, yang jumlahnya juga tidak banyak,” ungkap Hj. Ida pemilik Kios Beras Rizqi di Pasar Baru Indramayu kepada mhnews.id, Senin (6/2/2023).
Menurut Hj. Ida, biasanya Ia membeli langsung beras dari petani. Namun kali ini mengalami kesulitan menyusul belum masuknya masa panen rendeng.
“Susah sekarang cari beras di petani, belum panen. Terus mereka juga gak punya stok beras, jadilah mahal harga berasnya. Biasanya yang punya stok beras banyak saat ini, ya bandar besar,” ungkapnya.
Saat ini, kata Hj. Ida harga beras dengan kualitas rendah pada kisaran Rp 11.000 – Rp 11.500/kg. Beras kualitas ini (biasanya berwarna agak kekuningan). Kualitas sedang harganya berkisar Rp 12.000/kg. Sedangkan kualitas super harganya berkisar Rp 13.000/kg.
Diakui Hj. Ida, harga beras hampir naik tiap pekan, itupun tidak diimbangi dengan pasokan yang cukup. “Harga itu naik terus hampir tiap pekan barangnya gak ada, jadi susah kita juga,” ujarnya.
Dijelaskan, sebelumnya, harga beras medium berkisar Rp 9.500/kg, beras premium berkisar Rp 11.500/kg. Kenaikan harga beras ini faktor pemicunya salah satunya naiknya harga gabah di tingkat pasaran.
Saat ini, harga gabah kering giling (GKG) mencapai Rp 7.600/kg dari sebelumnya hanya berkisar Rp 6.500-Rp 6.900/kg. Ini terjadi akibat petani belum panen rendeng. Panennya rendengnya sendiri diperkirakan untuk Indramayu baru mulai pada Maret 2023.
Selama belum panen diperkirakan harga beras masih akan terus naik. Hal yang sama diungkapkan pedagang beras di Jalan Tanjungpura, Hj. Eni. Ia mengatakan, kenaikan harga beras mulai terjadi sejak sulitnya memperoleh pasokan. “Nyari pasokan berasnya lagi susah,” ungkap Eni.
Sejak awal Januari hingga minggu pertama Februari harga beras naik dua kali. Sekali naik, biasa mencapai Rp 500 sampai Rp1.000/kg. Kenaikan ini seringkali dikeluhkan pembeli, namun menurut Hj. Eni ia tidak bisa berbuat banyak, karena memang kondisi beras lagi mahal.
“Konsumen ngeluh, protes, ya mau gimana. Saya belinya juga mahal, kasian sih tapi gimana, konsumen juga akhirnya beli juga, karena memang butuh,” ungkap Hj. Eni.
Salah satu konsumen Usnawati (59) asal Kelurahan Kepandean, mengaku walaupun beras mahal, tetap harus dibeli, karena memang kebutuhan pokok untuk makan. Hanya saja karena dana terbatas dikurangi jumlah pembeliannya.
“Mau gak mau ya beli. Kalau dulu bisa beli 10 kg, sekarang beli 5 kilo aja, nyicil, uangnya gak cukup, apalagi banyak yang naik,” ungkap Usnawati.
Penulis : Iir Sairoh
Editor : Wawan Idris




