mhnews.id.- Minyak goreng kemasan merek ‘Minyakita’ yang dikeluarkan pemerintah berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 49 Tahun 2022 dengan tujuan meredam tingginya harga minyak saat itu, kini sudah tidak ada lagi di pasaran.
Saat itu minyak goreng rakyat ‘Minyakita’ Harga Eceran Tertinggi (HET) di tetapkan sebesar Rp 14.000,00 setiap liternya. Kehadiran minyak goreng tersebut sangat membantu ibu-ibu rumah tangga karena harganya relatif murah.
Namun saat ini ‘Minyakita’ sudah tidak ada lagi di pasaran. Akibatnya, ibu-ibu terpaksa kembali membeli minyak curah yang sempat di tinggalkan, mengingat harga minyak goreng kemasan merek lainnya mahal.
Rawi salah satu pedagang kelontong di pasar Indramayu mengungkapkan, setelah ‘Minyakita’ sulit didapat karena sudah hilang di pasaran, akhirnya ibu-ibu Kembali memilih minyak curah. “Penjualan minyak goreng curah pun kini meningkat lagi,” ujar Rawi.
‘Minyakita’ pertama kali diluncurkan beberapa bulan yang lalu. Karena harganya murah langsung mendapat tempat di hati ibu-ibu. Tak heran jika yang biasa membeli minyak goreng curah, beralih pada ‘Minyakita’.
“Konsumen lebih memilih ‘Minyakita’ karena kualitasnya lebih bagus dengan kemasan yang menarik. Selain itu, harganya juga lebih murah, Rp 14.000/liter. Sedangkan minyak goreng curah harganya Rp 15. 500-Rp 16.000/liter,” jelas Rawi kepada mhnews.id, Rabu (8/2/2023).
Dijelaskan Rawi, pada saat ‘Minyakita’ masih tersedia, penjualan minyak goreng curah mengalami penurunan. Butuh waktu satu bulan untuk menjual satu drum minyak goreng curah berisi 180 kilogram.
“Waktu ada ‘Minyakita’ minyak curah susah lakunya. Satu drum saja bisa berminggu-minggu baru bisa terjual habis,” ungkapnya.
Dukatakan, sekarang minyak goreng curah dipilih kembali sebagai pengganti ‘Minyakita’ karena harganya lebih murah dibandingkan minyak goreng kemasan merek lainnya. Saat ini, harga minyak goreng kemasan rata-rata Rp 18.000-Rp 24.000/liter. Tergantung mereknya.
“Ada juga sih yang tetap memilih minyak goreng kemasan. Walau harganya mahal, tetap dibeli, tapi tidak banyak,” kata Rawi.
Sementara itu Sri, pedagang gorengan di samping jembatan Sindang, mengaku terpaksa memilih minyak curah, setelah ‘Minyakita’ hilang. Alasannya minyak kemasan dengan merek lain terlalu mahal, tidak sebanding dengan harga jual gorengannya.
“Ya milih minyak curah, kalau minyak kemasan merk lain mahal. Gak ke beli, gak sebanding dengan harga gorengan yang cuma Rp 1.000/biji. Yang penting usaha jalan, ada pemasukan buat makan,” terang Sri.
Penulis : Iir Sairoh
Editor : Wawan Idris




