ALHAMDULILLAHI ROBBIL ‘ALAMIN. Allahumma sholli ‘ala Muhammad, wa‘ala alihi wa shohbihi wa sallam. Bagaimanakah cara membaca Al Fatihah dan suratnya saat sholat fardhu sendirian?
Apakah bacaan shalat fardhu yang bacaanya jahr (nyaring), seperti shalat Isya’, Shubuh, dan Maghrib bila dikerjakan sendiri karena udzur syar’i, sehingga tidak berjama’ah di masjid, harus di-jahr-kan (dinyaringkan) juga?
Pertanyaan ini kerap muncul karena sering kita menyaksikan Saudara Muslim kita saat sholat sendiri di tiga waktu tersebut bacaannya disir-kan (pelan).
Bahkan kita sendiri juga bukan tidak mustahil karena ketidaktahuan melakukan hal yang sama. Agar kita yakin, apakah harus disir-kan atau dijahr-kan, berikut ini penjelasan para ulama.
Dikutip dari almanhaj.or.id., saat sholat Maghrib, Isya, dan Shubuh bacaannya harus di-jahr-kan walau pun sholat sendiri.
Perintah ini sesuai dengan hadist yang diriwayatkan Abu Dawud, yaitu: Abu Qatâdah berkata:
Bahwasanya suatu malam Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar rumah dan mendapati Abu Bakar Radhiyallahu anhu shalat malam dengan merendahkan suaranya. Dan beliau melewati ‘Umar bin al-Khaththab ketika sedang shalat dengan meninggikan suaranya.
Ketika keduanya telah berkumpul di dekat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
“Wahai Abu Bakar, aku melewatimu ketika engkau sedang shalat dengan merendahkan suaramu”. Abu Bakar berkata: “Wahai Rasulullah, aku memperdengarkan kepada (Allah) yang aku berbisik kepada-Nya”.
Beliau juga bersabda kepada ‘Umar: “Aku melewatimu ketika engkau sedang shalat dengan meninggikan suaramu”. ‘Umar berkata: “Wahai Rasulullah, aku membangunkan orang yang mengantuk dan mengusir setan.”
Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai Abu Bakar, tinggikan suaramu sedikit”. Beliau juga bersabda kepada ‘Umar: “Wahai ‘Umar, rendahkan suaramu sedikit”. .
Namun ketika seseorang membaca dengan keras, hendaklah ia menjaga keikhlasannya, dan jangan sampai mengganggu orang lain. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Orang yang membaca Al-Qur`ân dengan keras, ia seperti orang yang bersedekah dengan terang-terangan. Dan orang yang membaca Al-Qur`ân dengan pelan-pelan, ia seperti orang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi. .
Penulis: Wawan Idris




