Oleh Dr. Supriyanto Dj. Manguntaruno
(E-mail: hujandikm97@gmail.com)

KERUGIAN dalam bentuk apapun sebaiknya dihindari, meskipun Anda termasuk orang kaya secara ekonomi. Pepatah ini khususnya disarankan kepada para jemaah haji baik sebelum keberangkatan, saat berada di tanah suci, maupun saat kembali ke tanah air.

Ketika masih di tanah air dan setelah kepulangan, mungkin tidak banyak masalah sebab segala sesuatunya sudah familiar: kegiatan apapun disampaikan dalam bahasa Indonesia, sehingga permasalahan yang muncul akan mudah dipahami, dan segera diselesaikan.

Namun, masalah yang terjadi saat di tanah suci, tak semudah itu diselesaikan jika kita kurang persiapan. Lantas, apa masalah yang harus diselesaikan selama masih di tanah air?

Apa masalah yang akan dihadapi selama di tanah suci? Apa pula masalah yang dihadapi setelah kepulangan ke tanah air?

Insiden yang Pernah Terjadi

Biasanya kita akan mengetahui bahwa sesuatu itu menjadi masalah serius setelah kejadian, dan perlu segera diselesaikan.

Oleh karena itu, belajar dari berbagai insiden yang menimpa jemaah haji tahun lalu, atau yang terjadi tahun-tahun sebelumnya, bisa mendatangkan keuntungan dan ketenangan dalam melaksanakan rangkaian ibadah haji.

Insiden yang menimpa Jemaah haji Indonesia tahun 2023 tentu tidak diharapkan akan terjadi lagi di tahun 2024.

Berbagai upaya harus dilakukan dengan cara selalu mengingatkan para Jemaah agar lebih berhati-hati dan selalu update informasi terkini. Jika tidak update dan tidak waspada, insiden tak bisa dihindari.

Harus diindahkan bahwa Pemerintah Arab Saudi telah menerbitkan sejumlah peraturan bagi jemaah haji baik di Madinah maupun di Mekkah. Bagi jemaah haji gelombang 1 dan 2, segeralah menyesuaikan diri dengan tempat jemaah berada.

Madinah merupakan kota yang pertama dikunjungi oleh jemaah haji gelombang pertama. Pusat perhatian dan kegiatan jemaah haji saat di Madinah adalah Masjid Nabawi.

Terdapat banyak aturan yang diberlakukan di dalam masjid dan di sekitar kawasan masjid, yaitu dilarang merokok, dilarang buang sampah sembarangan, dilarang berkerumun dengan ketentuan tertentu, dilarang mengambil video terlalu lama.

Dilarang mengambil benda milik orang lain yang jatuh tercecer, dan dilarang membentangkan spanduk atau bendera. Bagi yang melanggar, akan disanksi secara tegas oleh Askar (polisi Arab Saudi).

Apakah ada yang melanggar? Ternyata baru saja kejadian. Misalnya seperti dilaporkan Jawa Pos (Sabtu, 18/5/2024) tentang insiden yang dialami dua orang jemaah haji Indonesia asal embarkasi Surabaya, di kawasan masjid Nabawi.

Keduanya berurusan dengan Askar karena kedapatan melanggar aturan berkerumun dan membentangkan spanduk berlogo tertentu. Hal itu mereka lakukan setelah melaksanakan acara khusus sesama rombongan di pelataran masjid Nabawi.

Setelah acara selesai mereka berfoto bersama sambil membentangkan bendera dan spanduk yang mereka bawa. Kejadian itulah yang membuat Askar bertindak tegas dengan membawa dua orang pimpinan rombongan itu ke kantor polisi.

Mengapa hal itu terjadi? Sebab ketika manasik saat di tanah air, mungkin, peraturan itu sudah disampaikan oleh para pelatih di setiap KBIHU, namun jemaah tidak memperhatikan secara serius.

Padahal peraturan sudah jelas bahwa di Kawasan Majid Nabawi dilarang berkerumun lebih dari lima orang, dilarang membentangkan spanduk dan bendera dengan penanda-penanda tertentu, termasuk bendera merah putih.

Bagi Jemaah haji gelombang pertama, khususnya yang sudah tiba di Madinah pada 12 Mei 2024, setelah melakukan Arbain, mereka mulai bergerak meninggalkan Madinah untuk memasuki Mekkah pada Senin (20/5/2024) untuk segera melaksanakan umroh wajib.

Sebelum sampai ke Mekkah, mereka harus bersiap untuk mengambil miqat makani di Masjid Dzilhulaifah (Bir Ali).

Karena waktu miqat terbatas (antara 15 sampai 30 menit), jemaah yang tidak sigap dan telat informasi akan menyebabkan keberangkatan rombongan terhambat. Oleh karena itu, sebaiknya segera mengenakan kain ihram dan berwudhu saat masih di hotel, di Madinah.

Jika merasa bahwa wudhu-nya mengalami batal saat di perjalanan menuju Bir Ali, maka wudhu bisa dilakukan lagi di Bir Ali untuk langsung shalat sunnah dan melakukan niat umroh. Jadi tidak usah khawatir.

Namun, penting untuk diperhatikan bahwa pada saat musim haji, kepadatan Jemaah di Bir Ali tidak bisa dihindari. Oleh karena itu, bagi Jemaah yang lansia atau difabel disarankan tidak usah turun dari bus. Bagi mereka niat umroh bisa dilakukan di atas bus.

Selanjutnya, baik saat di Madinah maupun di Mekkah, banyak ketentuan yang dikeluarkan otoritas Arab Saudi yang harus dipatuhi para jemaah haji.

Ketentuan-ketentuan yang dipublikasikan memang selalu berubah setiap saat, tak hanya dalam hitungan dari tahun ke tahun, bahkan dari menit ke menit.

Oleh karena itu, semua jemaah haji harus selalu memperbarui (meng-update) berbagai informasi yang berlaku di sekitar tempat ibadah dan pemondokan (baik di Madinah maupun di Mekkah). Jika tidak, berbagai kerugian akan menimpa. Ini persoalan serius.

Setibanya di Mekkah, disarankan agar menjaga kesehatan tubuh dengan tanpa ragu untuk segera mengonsumsi makanan dan minuman yang ada.

Tidak usah khawatir akan kesulitan sebab biasanya kedatangan Jemaah haji sudah ditunggu di hotel-hotel yang sudah dipersiapkan. Ada banyak makanan dan minuman yang sudah disediakan khususnya kue khas Arab Saudi, kurma, dan air zamzam.

Setibanya di hotel, di Mekkah, Jemaah bisa beristirahat sejenak sambil tetap menjaga walimatul ihram, untuk kemudian bersiap menuju Masjidil Haram, melaksanakan umroh wajib.

Tidak perlu khawatir dengan koper besar dan koper kecil sebab sudah ada yang mengaturnya. Koper besar dan kecil akan ditempatkan oleh para petugas langsung di depan pintu hotel para Jemaah sesuai nomor kamar masing-masing.

Selama berada di Mekkah, menunggu pelaksanaan wajib haji, Jemaah sebaiknya mempersiapkan kondisi kesehatan agar prima pada saat wajib haji tiba. Caranya dengan mengantisipasi cuaca yang sangat panas.

Disarankan agar banyak minum, mengenakan payung jika ke luar dari hotel untuk menghindari terik matahari, tidak berfoto secara sembarangan, tidak membentangkan spanduk, tidak mengibarkan bendera tertentu.

Juga jangan merokok di sembarang tempat, dan tidak membawa artifak atau benda/barang tertentu yang dinilai oleh Askar (polisi Arab Saudi) sebagai jimat. Jika kedapatan melanggar, hukumannya tidak ringan, bahkan ada yang bisa dihukum pancung.

Saat puncak ibadah haji terjadi, para jemaah baru akan merasakan betapa pentingnya kondisi kesehatan. Kegiaan di Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina) yang dilakukan di tengah cuaca yang tidak bersahabat, membuat kondisi fisik para jemaah banyak yang terkuras.

Ditambah dengan ketidakdisiplinan untuk antri, khususnya saat bermalam di Muzdalifah dan bersiap menuju Mina, maka kondisi fisik sangat diandalkan.

Jika pelayanan angkutan jemaah terganggu karena macet, seperti tahun 2023, maka banyak jemaah yang sakit dan menjadi korban.

Sangat tidak enak untuk diakui, bahwa tahun 2023 merupakan tahun dimana jemaah haji dari Indonesia yang wafat menunjjukkan angka yang tertinggi, selama 10 tahun terakhir.

Pentingnya Menguasai Arus Informasi

Beratnya melaksanakan wajib haji, saat di Arafah, Muzdalifah, dan Mina, sebenarnya akan menjadi ringan jika para ketua regu (karu), para ketua rombongan (karom), dan para petugas haji menjalankan tugasnya secara baik untuk membina para jemaah haji.

Kejadian tahun 2023 yang membuat beberapa jemaah haji “menghilang” dari rombongan saat di Arafah, ternyata karena ada beberapa orang “penyusup” yang bisa masuk ke Maktab tempat para jemaah melaksanakan wukuf.

Para penyusup ini kemudian membujuk beberapa jemaah haji untuk mengikutinya melaksanakan rangkaian wajib haji secara berbeda dibanding rombongan resmi.

Kepolosan beberapa jemaah haji dimanfaatkan oleh para penyusup untuk melakukan berbagai penipuan.

Sebenarnya, upaya penipuan itu bisa digagalkan, jika para jemaah haji melakukan manasik secara benar dan serius saat masih di tanah air, baik yang dilaksanakan oleh KBIHU maupun oleh KUA, dan oleh Kemenag Kabupaten.

Selain itu, banyak bertanya kepada para petugas haji selama di Armuzna, merupakan langkah tepat agar ibadah haji dapat dilaksanakan sesuai ketentuan.****