ALHAMDULILLAHI ROBBIL ‘ALAMIN. Allahumma sholli ‘ala Muhammad, wa‘ala alihi wa shohbihi wa sallam. Tidak ada hari dalam hidup Rasulullah Sholallohu alaihi wa sallam yang berlalu tanpa makna.
Setiap langkahnya adalah ibadah, setiap diamnya adalah dzikir, dan setiap kebiasaannya adalah pelajaran langit yang membuat para malaikat mencatat dengan penuh kekaguman.
Berikut ini merupakan rutinitas Rasulullah Sholallohu alaihi wa sallam yang dapat dijadikan contoh, teladan, dan sekaligus menjadi amalan kita sehari-hari.
1. Bangun Sebelum Fajar: Menyambut Langit yang Masih Sunyi
Sebelum manusia terlelap dalam sisa mimpinya, Rasulullah Sholallohu alaihi wa sallam telah terjaga. Beliau bangun di sepertiga malam terakhir—waktu ketika langit paling dekat dengan bumi.
Beliau mengusap wajahnya, membaca doa, lalu menatap langit sambil membaca ayat-ayat Allah. Air mata sering jatuh tanpa suara, bukan karena kesedihan dunia, tetapi karena rasa takut dan rindu kepada Rabb-nya.
Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan pada sebagian malam hari, bertahajudlah sebagai ibadah tambahan bagimu…” .
Malaikat kagum—karena hamba yang dosanya telah diampuni, justru paling banyak berdiri dan menangis di hadapan Allah Azza wa Jalla.
2. Menyempurnakan Wudhu dan Shalat dengan Hati yang Hadir
Rasulullah Sholallohu alaihi wa sallam tidak pernah terburu-buru dalam wudhu dan shalat. Setiap tetes air wudhu menggugurkan dosa, setiap sujud terasa panjang, dan khusyuk.
Beliau bersabda: “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” . Maka para malaikat pun menyaksikan shalat seorang Nabi Sholallohu alaihi wa sallam yang shalatnya seakan-akan yang terakhirnya.
3. Dzikir Pagi yang Tak Pernah Ditinggalkan
Setelah shalat Subuh, Rasulullah Sholallohu alaihi wa sallam duduk di tempat shalatnya hingga matahari terbit. Bibirnya basah oleh dzikir, lisannya ringan menyebut Asma Allah Azza wa Jalla.
Beliau bersabda: “Barang siapa duduk berdzikir kepada Allah setelah shalat Subuh hingga matahari terbit… maka baginya pahala seperti haji dan umrah sempurna.” .
Malaikat pun mencatat dzikir yang terus mengalir dari lisan paling jujur yang pernah hidup di bumi. (bersambung)
Penulis: Wawan Idris



