ALHAMDULILLAHI ROBBIL ‘ALAMIN. Allahumma sholli ‘ala Muhammad, wa‘ala alihi wa shohbihi wa sallam. Istidraj menjadi ancaman keimanan, tauhid, ibadah, dan pahala kita semua.
Disebut demikian karena melalui istidraj Alloh Azza wa Jalla memberikan kesenangan dunia, seperti harta, jabatan, umur panjang, kesehatan, dan keberuntungan.
Seseorang yang selalu dilimpahi kesenangan dunia cenderung akan lalai kepada akhirat, bahkan melupakan adanya kekuasaan Alloh Azza wa Jalla.
Sebagaimana kaum Nabi Musa yang bernama Korun. Ia dikenal sebagai orang raya. Karena kayanya, Korun pun menjadi sombong. Ia menganggap kekayaannya semata-mata karena kepandaiannya, kerja kerasnya dan bukan karena Alloh Azza wa Jalla.
Secara umum, orang yang dilimpahi kesenangan dunia memang cenderung melupakan kewajibannya beribadah, berbuat kebajikan, bahkan melupakan Alloh Azza wa Jalla.
Lalu bagaimana agar istidraj tidak menimpa kita? Ini beberapa cara untuk menghindarinya.
1. Meningkatkan keimanan
Jadikan keimanan kita kepada Allah Azza wa jalla sebagai dasar bagi kita dalam menjalankan kehidupan di dunia. Karena dengan iman yang kuat keberkahan yang sejati akan kita dapatkan dalam hidup.
2. Mengerjakan amal sholeh
Allah Azza wa Jalla berfirman dalam Q.S. An-nahl ayat 97 yang artinya:
Barangsiapa yang mengerjakan amal sholeh baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sungguh akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.
3. Berdoa
Doa merupakan obat yang paling ampuh bagi umat muslim. Berdoa juga sebagai wujud penghambaan kepada Aloh Azza wa Jalla.
Berdoa dengan sungguh-sungguh merupakan cara kita meminta kepada Allah Azza wa jalla secara langsung agar diberikan keberkahan harta, waktu, keluarga dan juga kenikmatan kenikmatan dunia yang lainnya.
4. Memperbanyak intropeksi diri
Senantiasa intropeksi diri adalah hal terbaik untuk mengukur dan mengingatkan diri sendiri agar terhindar dari perbuatan yang tidak disukai Allah Azza wa jalla.
Ketika hati diingatkan untuk memohon ampun, maka itulah “perahu” yang menyelamatkan dari arus istidraj.
Agar sinyal taubat itu ada, hendaknya seorang beriman menjaga diri dari harta yang haram dan berupaya konsisten dalam menjalankan perintah-perintah Allah Azza wa jalla.
Semoga kita senantiasa terhindar dari perbuatan istidraj dan selalu menyertakan Allah SWT dalam setiap langkah agar kita senantiasa terlindungi dunia akhirat. Aamiin.
Penulis: Wawan Idris



