Oleh Entang Sastraatmadja
Penulis adalah Ketua Harian DPD HKTI Jawa Barat
PENYULUHAN Pertanian merupakan sistem pendidikan non formal yang dilakukan seorang (Penyuluh Pertanian Lapangan atau PPL) kepada petani dengan tujuan mengubah sikap, tindakan, dan pengetahuan ke arah yang lebih baik.
Penyuluhan Pertanian sering disebut sebagai proses pembelajaran, pemberdayaan, dan pemartabatan petani beserta keluarganya. Itu sebabnya, banyak pihak yang menilai para Penyuluh Pertanian adalah gurunya petani.
Sebagai guru, Penyuluh Pertanian tentu dituntut untuk dapat mendidik petani beserta keluarganya dengan hal-hal baru, baik dalam hal teknik budidaya tanaman ataupun yang berkaitan dengan sistem distribusi dan harga.
Penyuluh Pertanian ditantang agar mampu memberi gambaran yang luas soal agribisnis dan agroindustri, mulai hulu hingga hilir.
Posisi Penyuluh Pertanian sebagai guru, terutama dalam menularkan informasi dan teknologi baru kepada para petani, menuntut kepada dirinya agar terus menimba ilmu pengetahuan dan teknologi yang setiap saat terus berubah.
Pengalaman selama ini, berbagai inovasi dan teknologi baru di bidang teknik budidaya pertanian diperoleh dari para peneliti, pemulia tanaman dan pengkaji pertanian. Padahal kita tahu persis, kaitan peneliti dengan Penyuluh Pertanian cukup erat, khususnya dalam meningkatkan kapasitas dan kompetensi para Penyuluh Pertanian.
Artinya, Penyuluh Pertanian tidak mungkin dapat mendidik para petani agar meningkatkan produksi dan produktivitas hasil pertaniannya, sekiranya para peneliti tidak dapat menghasilkan karya terbaiknya.
Dalam beberapa tahun belakangan, hubungan antara peneliti dan Penyuluh Pertanian, terlihat kurang intensif. Masing-masing pihak asyik dengan masalahnya sendiri. Peneliti lebih banyak menyiapkan kebutuhannya sendiri agar secepatnya dapat meraih jenjang kepangkatan tertingginya. Sedangkan Penyuluh Pertanian pun sibuk dengan kepentingan pribadinya.
Peneliti sebagai “sumber kekuatan” Penyuluh Pertanian semakin berkurang, karena para peneliti jarang memberi informasi tentang teknologi baru di bidang budidaya dan Penyuluh Pertanian pun relatif terbatas dalam “mengisi” diri dengan hal-hal baru.
Akibatnya, wajar jika upaya meningkatkan kesejahteraan petani jadi terhambat, sekali pun langkah meningkatkan produksi pertanian dapat tercapai.
Kesejahteraan petani, rupanya tidak hanya ditentukan oleh peningkatan produksi yang cukup signifikan. Namun, banyak faktor lain yang menentukan petani dapat sejahtera atau tidak.
Artinya, mana mungkin pendapatan petani bakal meningkat, bila di saat panen raya, harga gabah atau beras di tingkat petani selalu ditekan rendah oleh para bandar dan tengkulak.
Jika tidak ada upaya nyata untuk menanganinya, suasana ini akan terus berlangsung sepanjang waktu. Petani akan tetap menjadi “permainan” para bandar dan tengkulak dalam menentukan harga jual. Dengan seabreg kekurangannya, petani terlihat akan semakin terpinggirkan dari keramaian panggung pembangunan. Betul-betul sangat memilukan.
Inilah salah satu pertimbangan, mengapa para Penyuluh Pertanian butuh diberi pemahaman yang mumpuni terkait dengan sistem pemasaran hasil pertanian agar mereka dapat mengajari petani sehubungan dengan soal pentingnya aspek distribusi dan harga.
Soal teknik budidaya, kita percaya para Penyuluhan Pertanian telah memiliki bekal yang cukup. Hal ini terjadi, karena titik kuat Penyuluhan Pertanian sendiri, memang ada disana, yakni meningkatkan produksi hasil pertanian.
Sejak lama Penyuluh Pertanian ditugaskan mengajarkan petani berbagai teknik budidaya agar produktivitas meningkat cukup signifikan. Hasilnya memang terbukti. Indonesia mampu mencatatkan diri di pentas dunia sebagai negara yang berswasembada beras.
Setelah produksi berhasil ditingkatkan, biasanya Penyuluh Pertanian kurang mencarikan solusi, termasuk memberi jaminan harga di tingkat petani untuk tidak anjlok di saat panen raya berlangsung.
Sayangnya, dengan keterbatasan para Penyuluh Pertanian terkait dengan sistem pemasaran hasil pertanian, maka materi Penyuluhan Pertanian yang diberikan kepada petani lebih bermuatan soal upaya peningkatan produksi.
Sebagai pendamping petani, keberadaan Penyuluh Pertanian, mestinya bersifat totalitas, dari hulu hingga hilir. Penyuluh Pertanian perlu ditantang agar kinerjanya bukan cuma diukur oleh meningkatnya hasil produksi pertanian, namun juga harus dapat membantu para petani dalam menjual hasil panennya agar tidak ditekan dan dibuat murah oleh oknum-oknum bandar atau tengkulak.
Ini penting, karena tujuan akhir dari Penyuluhan Pertanian adalah meningkatkan kesejahteraan petani. Dalam rangka mewujudkan harapan inilah ke depan, para Penyuluh Pertanian memiliki tugas untuk melahirkan Petani Pengusaha.
Petani bukan hanya bersifat subsisten atau cuma memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, tapi petani pun penting untuk berbisnis agar garapan usahanya dapat lebih profesional.
Penyuluh Pertanian, mestinya tampil sebagai pendamping petani. Penyuluh Pertanian, jangan membiarkan petani –seandainya pada saat panen raya berlangsung, para bandar dan tengkulak menekan harga. Akan lebih mengenaskan bila di lapangan ternyata ada Penyuluh Pertanian yang berperan sebagai bandar atau tengkulak.
Perilaku Penyuluh Pertanian inilah yang perlu diberantas, jika hal ini memang ada disekitaran kehidupan para petani. Semoga tidak ada. Kalau pun ada, tidak ada kata lain yang lebih tepat disampaikan kepada mereka, selain kata “Penyuluh Nurustunjung”.




