TIDAK dapat dipungkiri banyak ummat Islam yang tak berpuasa wajib selama bulan suci Ramadhan dengan alasan takut mengganggu aktivitas sehari-hari dan terutama karena tak sanggup menahan lapar dan haus.

Secara medis orang berpuasa akan kekurangan energi dan hal ini tentu saja berpengaruh terhadap aktivitas rutin sehari-hari. Terlebih mereka yang melakukan aktivitas dengan menggunakan sebagian besar energinya.

Orang yang bekerja di sawah (mencangkul, memanen padi, memanggul gabah) tentu saja akan mudah lelah ketika melakukannya saat sedang puasa. Rasa lapar dan haus dipastikan sangat mendera. Apalagi matahari bersinar terik, maka semakin mempercepat kehilangan cairan tubuh.

Apakah rasa lapar dan dahaga seperti yang dirasakan para pekerja keras (bekerja dengan menggunakan tenaga atau energinya) berbahaya kalau dibawa puasa?

Makan dan minum adalah aktivitas penting bagi makhluk hidup untuk tetap bertahan hidup. Melalui makanan dan minuman, kita memperoleh energi dan berbagai nutrisi penting sehingga tubuh bisa berfungsi dengan baik.

Saat sedang puasa, kita berhenti makan dan minum selama kurang lebih 12 jam. Kondisi perut tanpa makanan dan minuman tidaklah membayakan, walau pun dibawa bekerja keras sebagaimana petani, pekerja bangunan, atau atlet (sepakbola).

Bahwa terjadi penurunan stamina atau energi memang benar, namun secara umum kondisi tersebut ditinjau dari aspek kesehatan (medis) tidaklah membahayakan apalagi sampai menjadi penyebab kematian.

Namun berbeda dalam kondisi kelaparan yang disebabkan berhari-hari tidak makan dan minum. Saat tubuh tidak mendapatkan asupan makanan dan minuman berhari-hari akan menyebabkan kehilangan kalori.

Kelaparan itu sendiri disebabkan kekurangan makanan yang parah untuk waktu yang lama sehingga tidak ada kalori yang cukup untuk memenuhi kebutuhan energi tubuh.

Ketika sumber daya cadangan tubuh habis, hasilnya adalah penurunan berat badan yang substansial, pemborosan jaringan tubuh, dan akhirnya kematian. Dilansir dari National Public Radio (NPR), saat dihadapkan dengan kelaparan, tubuh akan melawan balik.

Hari pertama tanpa makanan sangat mirip dengan puasa semalaman. Tingkat energi rendah tetapi akan meningkat dengan makan pagi. Dalam beberapa hari, tidak ada makanan untuk dimakan, tubuh mulai ‘memakan’ dirinya sendiri.

“Saat itu, tubuh mulai mengonsumsi simpanan energi, karbohidrat, lemak, dan kemudian bagian protein dari jaringan,” kata Maureen Gallagher.

Maureen Gallagher merupakan penasihat nutrisi senior untuk Action Against Hunger, sebuah jaringan organisasi kemanusiaan internasional yang berfokus pada pemberantasan kelaparan.

Dipaparkan Maureen, dalam kondisi tersebut metabolisme tubuh pun melambat, tubuh tidak bisa mengatur suhunya, fungsi ginjal terganggu, dan sistem kekebalan tubuh melemah.

Ketika tubuh menggunakan cadangannya untuk memenuhi kebutuhan energi dasar, tubuh tidak dapat lagi memasok nutrisi yang diperlukan ke organ dan jaringan vital.

Jantung, paru-paru, ovarium, dan testis akan menyusut. Otot menyusut dan orang yang kelaparan merasa lemah. Suhu tubuh turun dan bisa menyebabkan kedinginan. Orang bisa menjadi mudah tersinggung dan menjadi sulit untuk berkonsentrasi.

Akhirnya, tidak ada yang tersisa untuk tubuh kecuali otot. Dalam tahap ini, tubuh ‘mengonsumsi’ otot sendiri, termasuk otot jantung. Pada tahap akhir kelaparan, orang bisa mengalami halusinasi, kejang, dan gangguan irama jantung. Hingga akhirnya, jantung berhenti.

Penulis: Wawan Idris