MHNEWS.id.- Bayi di bawah usia 6 bulan cukup sering mengalami cegukan, meskipun tak berbahaya tapi kita merasa tak tega. Terutama pada bayi baru lahir, cegukan membuatnya jadi tak nyaman saat tidur.

Cegukan terjadi biasanya setelah bayi cukup banyak minum ASI atau sufor. Hal ini sebenarnya normal. Cegukan disebabkan oleh kejang diafragma kecil dan otot besar yang membentang di bagian bawah tulang rusuk dan bergerak naik turun saat kita bernapas.

“Cegukan, yang terjadi di saluran pencernaan, hampir tidak pernah menunjukkan adanya masalah pada bayi baru lahir atau bayi,” kata Christal-Joy Forgenie, MD, seorang dokter anak di Soha Pediatrics di New York City.

Dikutip MHNEWS.id dari m.dream.co.id., cegukan pada bayi baru lahir paling sering disebabkan saat si kecil terlalu banyak minum, minum susu terlalu cepat, atau menelan banyak udara.

“Semua hal ini dapat menyebabkan perut kembung. Saat perut membengkak, sebenarnya mendorong diafragma, yang menyebabkannya kejang, dan cegukan,” kata Forgenie.

Perubahan Suhu
Ia juga menjelaskan kalau cegukan pada bayi baru lahir sangat umum terjadi setelah atau bahkan selama menyusui.

Bayi cegukan juga bisa terjadi akibat perubahan suhu perut secara tiba-tiba. Misalnya, memberi bayi susu dingin dan beberapa menit kemudian memberi anak makanan panas. Menurut Forgenie, kombinasi ini justru bisa memicu bayi cegukan.

Selain pemicu terkait makan, beberapa kasus cegukan bayi dapat disebabkan oleh gastroesophageal reflux, atau GER.

Saat mengalami gastroesophageal reflux, makanan yang dicerna sebagian dan cairan asam dari lambung mengalir kembali ke kerongkongan yang menyebabkan rasa terbakar dan tidak nyaman.

Hal ini karena esofagus melewati diafragma, ia bisa mengalami iritasi dan menyebabkan banyak bayi cegukan. “Kedengarannya intens, tapi ini cukup umum dan tidak selalu menimbulkan masalah bagi bayi,” kata Forgenie.

Penulis: Wawan Idris