ALHAMDULILLAHI ROBBIL ‘ALAMIN. Allahumma sholli ‘ala Muhammad, wa‘ala alihi wa shohbihi wa sallam. Apa yang dilakukan oleh ‘Amr bin Luhay Al-Khuzā’i diabadikan oleh Allah di dalam Al-Quran. Allāh Subhānahu Wa Ta’āla berfirman:

“Allah sekali-kali tidak pernah mensyari´atkan adanya bahiirah, saaibah, washiilah dan haam (ini nama-nama unta atau kambing yang dikeramatkan). Akan tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak mengerti”.

‘Amr bin Luhay al-Khuzaa’i melarang memotong unta atau kambing yang dihalalkan oleh Allāh Subhānahu Wa Ta’āla.

Bahkan Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullāh dalam perkataannya yang indah dalam kitab Al-Bidāyah wa An-Nihāyah, beliau menjelaskan bahwasanya ‘Amr bin Luhay Al-Khuzā’i melakukan ini semua dalam rangka sebagai rahmat terhadap hewan-hewan, menurut persangkaannya.

Dan bid’ah-bid’ah yang mereka lakukan dari syari’at-syari’at yang bathil dan rusak adalah sesuatu yang disangka oleh pembesar mereka (‘Amr bin Luhay Al-Khuzā’i, semoga Allāh memburukkan wajahnya) sebagai suatu mashlahat dan sebagai suatu bentuk rahmat kepada hewan ternak.

Secara sekilas dan zhahirnya perbuatan ini seolah-olah tampak bagus. Unta yang sudah melahirkan anak betina 5 kali berturut-turut, dianggap telah berjasa sehingga tidak boleh disentuh dan diperas susunya.

Secara sekilas hal tersebut merupakan mashlahat dan rahmat, tetapi sejatinya hal tersebut adalah bid’ah yang sesat dan awal mula munculnya kesyirikan, yaitu mengkeramatkan hewan-hewan.

Maka setelah itu syirik berkembang, dimulai dari penyembahan patung-patung yang mereka jadikan washilah bagi mereka dengan Allāh Subhānahu Wa Ta’āla.

Dari sini wajar kalau kita mengetahui bahwasanya orang-orang Arab dahulu meskipun mereka di zaman Jahiliyyah, mereka telah mengenal Allāh, mengenal Ka’bah, mengenal dakwah tauhid yang merupakan ajaran Nabi Ibrāhīm ‘alaihissalām yang masih tersisa pada mereka.

Mereka mengenal Allāh sebagai Pencipta. Maka jangan disangka orang-orang musyrik tidak mengenal Allāh, mereka kenal. (selesai)

Penulis  : Wawan Idris
Sumber: firanda.com