ALHAMDULILLAHI ROBBIL ‘ALAMIN. Allahumma sholli ‘ala Muhammad, wa‘ala alihi wa shohbihi wa sallam. Tidak ada seorang manusia pun yang terus merasa senang, dan tidak pula terus dalam duka dan kesedihan.

Senang dan duka adalah sunatullah yang pasti mewarnai kehidupan ini. Semuanya merasakan senang dan duka datang silih berganti. Jangankan kita, generasi terbaik umat ini, para wali Allah, yakni para sahabat Nabi pun pernah dirundung kesedihan.

Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah ingin memberi bukti kebenaran kepada beriman (dengan orang-orang kafir) dan menjadikan sebagian diantara kalian sebagai syuhada’. Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim. (Q.S. Ali Imran: 140).

Dalam ayat di atas Allah Azza wa Jalla menceritakan keadaan mereka saat mengalami kekalahan dalam perang uhud.

Allah Azza wa Jalla yang menciptakan kebahagiaan dan kesedihan agar manusia menyadari nikmatnya kebahagiaan, sehingga ia bersyukur dan berbagi. Allah Azza wa Jalla juga menciptakan sempitnya kesedihan agar ia tunduk bersimpuh kepada-Nya serta tidak menyombongkan diri.

Saat bersedih ia mengadu harap hanya kepada Allah Azza wa Jalla. Merendah, merengek di hadapan Allah Azza wa Jalla. Bersimpuh pasrah hanya kepada Allah Azza wa Jalla Yang Maha Penyayang.

Bagi orang yang beriman segala kesedihannya hanya akan diadukan kepada Alloh Azza wa Jalla. Sebab hanya Dia-lah yang dapat menghilangkan kesedihan dan kedukaan yang mendera menyesakkan jiwa.

Seperti aduannya Nabi Ya’qub ‘alaihi salam saat lama berpisah dengan putra tercinta, Yusuf ‘alaihi salam. “Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan penderitaan dan kesedihanku.” (Q.S. Yusuf: 86).

Kesedihan dan kedukaan sebagaimana kesenangan dan kegembiraan adalah sebuah karunia Allah Azza wa Jalla. Karenanya bersedih dan berduka tidak tercela, terlebih penyebabnya adalah sesuatu yang positif, seperti karena melakukan dosa.

Alloh Azza wa Jalla berfirman, “Dialah Allah yang menjadikan seorang tertawa dan menangis.” (Q.S. An-Najm: 43).

Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang merasa bergembira karena amal kebaikannya dan sedih karena amal keburukannya, maka ia adalah seorang yang beriman” (H.R. Tirmidzi). (bersambung)

Penulis: Wawan Idris