mhnews.id.- Ketua DPRD Indramayu H. Syaefudin mengatakan dewan tidak menolak pembangunan patung Bung Karno sebagai salah satu tokoh proklamator. Dewan sangat menghargai tokoh Bung Karno.
Bahkan Syaefudin mengusulkan pembuatan patung Bung Karno ini akan lebih baik jika dipasangkan dengan tokoh proklamator lainnya yaitu Bung Hatta. Pertimbangannya, kedua tokoh ini merupakan Bapak Proklamator Indonesia.
Namun pembangunannya perlu dipertimbangkan aspek sosiologis, filosofis, historis, dan fisiologisnya. “Kalaupun eksekutif berkeinginan membangun patung itu, harus mempertimbangkan aspek historis dan fisiologisnya,“ ujar Syaefudin.
Setelah melalui kajian historis dan fisiologis, menurut Ketua DPD Partai Golongan Karya Kabupaten Indramayu ini, sebaiknya dipertimbangkan juga manfaat bagi daerahnya.
Yang pasti, tegas Syaefudin rencana penbangunan patung bung karno itu, di luar rencana pembangunan jangka menengah daerah. Masih banyak pembangunan skala prioritas yang belum terealisasi, seperti pengobatan gratis dan lainnya sesuai visi misi Pemerintah Daerah.
“Itulah sebabnya pembahasan rencana pembuatan patung Bung Karno masih terkesan alot. Dewan masih menunggu eksekutif, apakaah akan mengubah atau tidak rencana itu. Namun demikian dewan sudah menanyakan dan mengusulkan ke eksekutif. Nanti kita liat dalam rapat paripurna tanggal 2 September ini,” ungkap Syaefudin.
Terlepas dari itu, papar Syaefudin dalam sejarah, Bung Karno dan Bung Hatta sekitar tahun 1947 pernah melakukan kunjungan ke Indramayu dalam misi untuk menyakinkan bahwa Indonesia merdeka berdaulat. Saat itu kedua tokoh Proklamator dikawal tokoh lokal Indramayu M.A. Sentot.
Karenanya, lanjut Saefudin, jika tujuan pembangunan patung itu untuk memberikan edukasi kepada masyarakat, sebaiknya bukan hanya sosok Bung Karno saja, tetapi juga patung tokoh lokal Indramayu.
Kalau tujuannya untuk mengedukasi masyarakat yang paling tepat sebenarnya bukan membangun patung, melainkan dalam bentuk diorama. Diorama sendiri adalah sejenis benda miniatur tiga dimensi untuk menggambarkan suatu pemandangan, peristiwa, atau adegan. Dalam kontek ini adegan atau peristiwa Soekarno-Hatta saat ke Indramayu.
“Jika itu dilakukan, dewan bersedia menambah anggaran lebih besar, tidak hanya Rp 200 juta saja,” tegas Syaefudin saat diwawancarai mhnews.id, Rabu (31/8).
Penulis : Iir Sairoh
Editor : Wawan Idris




