mhnews.id.- Indramayu Expo atau Pameran Pembangunan sebagai sarana mempromosikan produk-produk UMKM dimanfaatkan Rumah Zakat, Desa Tegalurung, Kecamatan Balongan, Indramayu untuk memperkenalkan hasil kerajinan tangan para Lansia.
Salah satu produk andalan para Lansia itu adalah sebuah kursi yang berbahan dasar limbah plastik, khususnya botol air kemasan. Kursi tersebut diberi merek D’ecobrik. Kini kursi D’ecobrik menghiasi stand Kecamatan Balongan pada ajang Indramayu Expo.
Tak disangka, kursi D’ecobrik mendapatkan perhatian berbagai kalangan. Hal ini bukan saja karena sudah berwujud sebuah kursi cantik, melainkan ada beberapa hal yang patut diapresiasi dalam pembuatannya.
D’ecobrick ternyata dibuat para lansia di bawah binaan Rumah Zakat di Desa Tegalurung Kecamatan Balongan. Hal itu dikatakan seorang Relawan Rumah Zakat, Lastri Mulyani, saat ditemui di stand pameran Kecamatan Balongan yang tergabung dengan Eks Kawedanan Indramayu.
Lastri mengatakan setidaknya ada dua hal penting dari terciptanya kursi D’ecobrick, yaitu peduli lingkungan turut mengatasi sampah plastik dan memberdayakan para lansia.
“Kita mengkoordinir kegiatan mereka (Lansia). Ada kegiatan kesehatan, dan pemberdayaan ekonominya ini (pembuatan D’ecobrick),” katanya, kepada mhnews.id, Rabu (5/10).

Bupati Indramayu, Nina Agustina mengapresiasi kursi cantik D’ecobrik. Foto: Rohman/mhnews.id
Lastri menceritakan hal itu bermula dari program sedekah sampah yang ditampung dari para lansia pada 2019 lalu. Hasil dari penjualan sampah itu kemudian digunakan untuk pemberdayaan dan kegiatan-kegiatan sosial.
Namun, dalam perkembangannya setelah dievaluasi, dari penjualan sampah plastik yang menggunung hasil rupiahnya tak seberapa, akhirnya muncul ide cemerlang Lastri dari sampah plastik itu diarahkan pada pembuatan kursi yang kini punya nama D’ecobrick.
Diakui, D’ecobrick yang merupakan botol plastik berisi sampah plastik yang dimasukkan hingga memadat itu telah ada sebelumnya. Namun, D’ecobrick yang tersusun hingga membentuk kursi cantik merupakan asli idenya hingga diberi nama D’ecobrick.
“Dari nol sampai jadi kursi itu dua tahun, makanya, kan kita bukan nyontek. Jadi bener-bener ori lah kita otodidak, mikir sendiri, kekurangannya apa diperbaiki sampai sempurna seperti sekarang,” jelasnya.
Dituturkan, kursi D’ecobrick terdapat beberapa model, yaitu bulat, kotak, dan persegi panjang. Sementara ukurannya, ada yang besar terbuat dari botol air mineral ukuran 1,5 liter dan ada juga yang ukuran kecil dari botol kapasitas 600 mililiter.
Kursi D’ecobrick yang kuat menopang berat hingga 100 kilogram itu telah laku sebanyak 130 buah. Pesanan banyak dari dalam maupun luar kota melalui penjualan dalam jaringan. “Ini ada pesanan lagi 5 dari Bupati (saat kunjungan stand pada malam pembukaan pameran),” katanya.
Sekretaris Camat Balongan, Encep Ria Setiyadi mengaku bangga memamerkan D’ecobrick di stand Kecamatan Balongan. Sebab, D’ecobrick lahir dari kepedulian terhadap lingkungan dengan memanfaatkan sampah plastik dan peduli terhadap lansia dengan memberdayakannya.
“Kita apresiasi, dan akan kita dorong dan fasilitasi untuk mengikutsertakannya D’ecobrik dalam pameran-pameran lain, termasuk di luar Indramayu. Dengan begitu D’ ecobrik lebih dikenal secara luas sehingga pemasarannya pun makin baik,” ucapnya.
Penulis : Rohman
Editor : Wawan Idris




