ALHAMDULILLAHI ROBBIL ‘ALAMIN. Allahumma sholli ‘ala Muhammad, wa‘ala alihi wa shohbihi wa sallam. Memuji berlebihan dan melampaui batas atau ghuluw kepada Mabi Muhammad Sholallohu alaihi wa sallam sangatlah dilarang.
Apalagi kepada pigur-pigur yang oleh kelompok atau komunitas tertentu dianggap tokoh, baik tokoh agama, masyarakat, pemuda, politik, dan sejenisnya.
Ustazd Yazid bin Abdul Qodir Jawas dalam almanhaj.or.id., mengatakan, salah satu sebab yang membuat seseorang menjadi kufur adalah sikap ghuluw dalam beragama.
Ghuluw yang menyebabkan seseorang kufur itu, baik kepada orang shalih atau dianggap wali, maupun ghuluw kepada kuburan para wali, hingga mereka minta dan berdo’a kepadanya padahal ini adalah perbuatan syirik akbar.
Ghuluw dalam hak Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah melampaui batas dalam menyanjungnya, sehingga mengangkatnya di atas derajatnya sebagai hamba dan Rasul (utusan) Allah, menisbatkan kepadanya sebagian dari sifat-sifat Ilahiyyah.
Hal itu misalnya dengan memohon dan meminta pertolongan kepada beliau, tawassul dengan beliau, atau tawassul dengan kedudukan dan kehormatan beliau.
Tidak sampai di situ karena ghuluw banyak juga yang bersumpah dengan nama beliau, sebagai bentuk ‘ubudiyyah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Perbuatan tersebut jelas adalah syirik.
Selain itu kita juga dilarang ithra’ kepada siapa pun, termasuk kepada Nabi Rosululloh sholallohu alaihi wa sallam.
Yang dimaksud ithra’ dalam hak Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah berlebih-lebihan dalam memujinya. Padahal beliau telah melarang hal tersebut melalui sabda beliau:
“Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku, sebagai-mana orang-orang Nasrani telah berlebih-lebihan memuji ‘Isa putera Maryam. Aku hanyalah hamba-Nya, maka kata-kanlah, ‘‘Abdullaah wa Rasuuluhu (hamba Allah dan Rasul-Nya).” .
Dengan kata lain, janganlah kalian memujiku secara bathil dan janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku.
Hal itu sebagaimana yang telah dilakukan oleh orang-orang Nasrani terhadap ‘Isa Alaihissallam, sehingga mereka menganggapnya memiliki sifat Ilahiyyah.
Karenanya, sifatilah aku sebagaimana Rabb-ku memberi sifat kepadaku, maka katakanlah: “Hamba Allah dan Rasul (utusan)-Nya.”
Penulis: Wawan Idris




