mhnews.id.- Hidayah itu hak Alloh Ta’ala. Barang siapa dikehendaki-Nya seseorang dengan mudah mendapat petunjuk ke jalan Islam yang lurus. Sebaliknya, bila tidak dikehendaki-Nya maka seseorang itu akan tetap di jalan sesat walau selalu mendapat peringtan.
“Barang siapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah (petunjuk), Dia akan membukakan dadanya untuk (menerima) Islam. Dan barang siapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia (sedang) mendaki ke langit. Demikianlah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” Q.S. Al-An’am: 125).
Mantan Marinir Amerika Serikat, Richard ‘Mac’ McKinney adalah contoh nyata dari Q.S. Al-An’am ayat 125 di atas. Ia yang semula pembenci Islam bahkan merencanakan untuk membom masjid, karena hidayah Alloh Ta’ala ia kini manjadi mualaf.
Mac, tidak hanya sekadar menjadi mualaf dan sangat mencintai Islam, dia kini bahkan menjadi menjadi Presiden Islamic Center, setelah sebelumnya didaulat menjadi Presiden Asosiasi Mahasiswa Muslim (MSA) Ball State.
Melansir cnnindonesia, kebencian pada Islam tertanam di benak Mac saat dia dikirim ke Suriah, karena banyak hal yang ia lihat. “Banyak hal yang saya lihat menjadi alasan mengapa saya merasakan apa yang saya rasakan di kemudian hari,” kata Mac.
Usai masa tugas di Suriah berakhir, Mac memproklamirkan diri menjadi nasionalis. Menghancurkan masjid menjadi salah satu dari sejumlah rencananya. Mac menyadari jika ia melancarkan aksinya, hidup dia bakal berahir di penjara Terre Haute.
Mac mulanya ingin mengebom salah satu masjid Pusat Studi Islam Muncie, Indiana, di suatu hari Jumat pada 2009 silam. Namun, Mac berubah pikiran saat melihat anaknya pulang dari sekolah dan berbincang soal ibu temannya yang mengenakan niqab.
Cerita itu direspons dengan komentar yang meledak-ledak. Mac betul-betul tak ingin anaknya berada di orang-orang semacam itu. Sang Putri pun kesal dan bingung.Reaksi putrinya membuat Mac mempertimbangkan ulang rencananya.
“Anak-anak tak dilahirkan dengan prasangka tau rasisme atau kebencian. Mereka buta warna, dalam arti tertentu,” ujar dia. Karenanya ia tak ingin putrinya memiliki kebencian yang sama terhadap orang Muslim.
Ia lalu mencari jawaban atas kebingungan yang melanda dan menghadapi kebencian dirinya. Untuk menemukan jawaban itu, Mac pergi ke Islamic Center. Orang-orang menyambutnya, meski dia merasa asing dan ganjil.
“Setelah beberapa saat, saya mulai menghabiskan berjam-jam di sana, dan semuanya masuk akal bagi saya. Saya tahu saya ingin mengucapkan Syahadat – saya ingin menjadi seorang Muslim,” jelas Mac.
Mac pun mengucap syahadat dan berkomitmen masuk Islam. Dia juga memiliki nama sebagai Muslim, Omar Sayeed Ibn Mac. Beberapa saat kemudian dia diangkat menjadi Presiden Asosiasi Mahasiswa Muslim (MSA) Ball State.
Lalu pada 2014, ia terpilih sebagai presiden Islamic Center. Hari-hari selanjutnya, Mac kerap memimpin doa dan memberi khotbah. Mac juga memiliki visi untuk membuat komunitas Muslim lebih terlihat dan mengoreksi kesalahpahaman yang beredar.
Eks marinir itu juga telah mempelajari pekerjaan sosial di Ball State. Kisah Mac dibuat dalam film dokumenter pendek berjudul ‘Stranger at the Gate.’ Film ini juga menang dalam Festival Film Tribeca pada 2022 sebagai kategori khusus.
Penulis : Wawan Idris
Sumber : cnnindonesia




