mhnews.id.- Setiap orang dipastikan sangat berharap doanya dikabulkan Allah Ta’ala. Namun ketika doa tidak terkabulkan maka janganlah kita berburuk sangka kepada Alloh Ta’ala, akan tetapi terus berdoa.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala mengatakan ada tiga hal yang menjadi sebab dikabukannya doa, yaitu:
Pertama, mengangkat kedua tangan ke atas, yaitu menuju Allah Ta’ala. Karena Allah Ta’ala berada di atas, istiwa’ di atas ‘arsy-Nya. Mengangkat kedua tangan ke atas termasuk sebab pengkabulan doa sebagaimana terdapat dalam hadits,
إِنَّ اللَّهَ حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي من عبده إِذَا رَفَعَ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا
“Sesungguhnya Allah Ta’ala itu Maha Pemalu dan Maha Pemurah. Allah Ta’ala malu kepada hamba-Nya yang mengangkat dua tangannya kepada-Nya, namun kembali dalam keadaan kosong (yaitu, tidak dikabulkan).” (H.R. Tirmidzi No. 3556, Abu Dawud No. 1488, Ibnu Majah No. 3865)
Kedua, orang tersebut berdoa kepada Allah dengan menyebut nama Allah “Ar-Rabb”, yaitu dengan memanggil “Ya Rabb, Ya Rabb”.
Tawassul kepada Allah Ta’ala dengan (menyebut) nama Allah Ta’ala tersebut merupakan sebab pengkabulan doa. Karena Rabb merupakan pencipta, raja, yang mengatur seluruh urusan, dan pengaturan langit dan bumi berada di tangan-Nya.
Oleh karena itu, kita jumpai mayoritas lafadz doa yang terdapat dalam Al-Qur’an adalah dengan menggunakan nama Allah Ta’ala ini. Jadi, bertawassul dengan menyebut nama Allah tersebut (Ar-Rabb), meruapakan di antara sebab pengkabulan doa.
Ketiga, orang tersebut melakukan safar (perjalanan jauh). Mayoritas keadaan orang yang sedang safar adalah sebab pengkabulan doa. Hal ini karena orang yang sedang safar (misalnya dengan pesawat) merasa sangat butuh Allah Ta’ala.
Merasa sangat butuhnya seorang hamba kepada-Nya ketika safar itu lebih besar daripada ketika sedang dalam kondisi tidak safar, lebih-lebih di zaman dahulu.
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa sesungguhnya Allah Ta’ala turun ke langit dunia pada sore hari ketika hari Arafah, membanggakan orang-orang yang wukuf di Arafah di depan malaikat. Allah Ta’ala berkata,
أتوني شعثا غبرا ضاحين من كل فج عميق
“Mereka mendatangiku dalam keadaan kusut, berdebu, berjalan dari semua tempat yang jauh.”
Jika syarat-syarat tersebut terpenuhi, namun tidak dikabulkan, maka hal tersebut karena suatu hikmah yang Allah Ta’ala ketahui dan tidak diketahui oleh hamba yang berdoa. Boleh jadi kita menginginkan sesuatu, padahal sesuatu tersebut tidak baik untuk kita.
Ketika syarat-syarat tersebut terpenuhi, namun tidak Allah Ta’ala kabulkan, maka bisa jadi:
Pertama, dia tercegah dari kejelekan (bahaya atau musibah) yang lebih besar. Kedua, Allah Ta’ala simpan doa tersebut sampai hari kiamat dan Allah Ta’ala penuhi pahalanya yang sangat besar.
Tidak dikabulkannya doa tersebut adalah karena hikmah tertentu, sehingga dia mendapatkan pahala dua kali: (1) karena sebab doanya; (2) karena sebab musibah yang menimpa dirinya dengan tidak dikabulkannya doanya tersebut dan Allah Ta’ala simpan untuknya (berupa pahala) yang lebih besar dan lebih sempurna.
Perkara penting lainnya adalah hendaknya seseorang tidak merasa bahwa doanya tidak segera (lama atau lambat) terkabul. Karena hal semacam ini adalah sebab tidak dikabulkannya doa. Hal ini sebagaimana terdapat dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ
“Doa salah seorang di antara kalian akan dikabulkan selama tidak tergesa-gesa.” Para sahabat bertanya, “Apa maksud tergesa-gesa itu, wahai Rasulullah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
دَعَوْتُ و دَعَوْتُ و دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي
“Yaitu ketika seseorang berkata, “Aku berdoa, aku berdoa, aku berdoa, namun belum juga dikabulkan.” (H.R. Bukhari No. 6340 dan Muslim No. 2735)
Untuk diingat, tak seharusnya ketika doa itu lama atau tidak segera Allah Ta’ala kabulkan, lalu tidak berdoa dan meninggalkan doa. Sebaliknya kita harus terus merengek-rengek berdoa. Bukankah setiap doa kepada Allah Ta’ala adalah ibadah dan menambah pahala?
Karenanya, hendaklah kita berdoa kepada Allah Ta’ala, dalam setiap urusan, baik yang umum atau khusus, sulit atau mudah. Berdoalah karena doa itu adalah bentuk ibadah kepada Allah Ta’ala dan karenanya sudah selayaknya kita untuk selalu berdoa. Wallahul muwaffiq.
Penulis: Wawan Idris



