MHNEWS.id.- Hasil survei Poltracking Indonesia elektabilitas Prabowo 38,9 persen dan Ganjar 37 persen dengan selisih hanya 1,9 persen. Padahal seharusnya Prabowo menang telak.

Sebelumnya dalam beberapa kali survei Litbang Kompas justru elektabilitas Ganjar Pranowo mengalahkan Prabowo Subianto dengan selisih angka yang juga tipis di kisaran 2-3 persen.

Dalam SMRC juga (khususnya di Jatim) Ganjar Pranowo juga unggul dengan 40 persen, Prabowo 23 persen, dan Anies 14,2 persen.

“Maka pilihan yang pertama adalah pada Ganjar Pranowo 44 persen, kemudian Prabowo Subianto 23 persen. Anies Baswedan 14,2 persen. Dan sisanya 18,8 persen menyatakan belum tahu akan memilih siapa,” ujar pendiri SMRC, Saiful Mujani Jumat, (29/9/2023).

“Trend elektabilitas capres 3 nama yang ditemukan dalam survei di Jawa Timur, dari April Ganjar Pranowo masih stabil di angka 40%, nyaris tidak berubah,” ujar Direktur Eksekutif PRC Rio Prayoga dalam pemaparaannya, Minggu (17/9/2023).

Urutan kedua yaitu Prabowo Subianto dengan 32,3%. Rio menyebut elektabilitas Prabowo menurun sebanyak 8,2%.

Direktur Parameter Politik Indonesia (PPI), Adi Prayitno mengatakan keunggulan sementara yang hanya berbeda tipis itu dikarenakan Prabowo dinilai mempunyai tabungan politik 15 tahun.

“Pertama, Prabowo punya tabungan politik 15 tahun. Sudah ikut tanding pilpres sejak 2009 jadi calon wakil Megawati, dan dua kali capres menantang Jokowi. Itu modal utamanya,” papar Adi Prayitno Sabtu (7/10/2023).

“Secara umum publik melihat Prabowo spesialis ikut pilpres meski selalu kalah. Sementara Ganjar dan Anies pendatang baru di pilpres,” imbuhnya sebagaimana dilansir detik.com.

Adi Prayitno mengatakan bahwa Prabowo juga masih menempel ketat dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan atribut kampanyenya. Dia juga menyinggung Gibran Rakabuming Raka yang diisukan mendampingi Prabowo di Pilpres 2024.

“Kedua, Prabowo nempel ketat Jokowi dengan memasang atribut kampanye ada foto Jokowi bersama Prabowo. Dalam banyak hal itu mengonfirmasi bahwa Prabowo juga orangnya Jokowi. Ini yang selalu dikapitalisasi untuk mengeruk keuntungan elektoral meski Jokowi kader PDIP,” katanya

“Tak berhenti di situ, kubu Prabowo juga memasukkan nama Gibran sebagai sosok potensial pendamping Prabowo. Tentu ini semua dilakukan untuk merebut hati pemilih Jokowi,” sambungnya.

Lebih lanjut, Adi Prayitno mengatakan Prabowo seharusnya menang telak dari Ganjar Pranowo dan Anies Baswedan. Dia menyebut penentuan akan terlihat jika pasangan capres didaftarkan ke KPU.

“Untuk ukuran Prabowo yang pengalaman tanding pemilunya paling banyak, mestinya menang telak ke calon lainnya. Tapi nyatanya tak begitu,” papar Adi.

“Sementara mesin politik calon lain belum terlihat kerja maksimal. Mungkin akan gaspol setelah penetapan pasangan capres oleh KPU,” imbuhnya.

Penulis: Wawan Idris