ALHAMDULILLAHI ROBBIL ‘ALAMIN. Allahumma sholli ‘ala Muhammad, wa‘ala alihi wa shohbihi wa sallam. Sebagian ummat Islam ada yang merayakan 1 Muharram dengan menyakiti diri sendiri dan ada pula yang melakukan pesta, karnaval, dan makan-makan.
Kedua perayaan tersebut menyelisihi ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang-orang yang memperingati 1 Muharram dengan kesedihan, menyakiti diri sendiri maka hal itu sama halnya dengan Syi’ah.
Di Iran, yaitu pusat penyebaran Syi’ah saat ini, merupakan suatu pemandangan yang wajar, kaum lelaki melukai kepala-kepala dengan pisau mereka hingga mengucurkan darah, begitu pula dengan kaum wanita mereka melukai punggung-punggung mereka dengan benda-benda tajam.
Begitu pula menjadi pemandangan yang wajar mereka menangis dan memukul wajah mereka, sebagai lambang kesedihan mereka atas terbunuhnya Husain radhiallahu ‘anhu.
Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Bukan termasuk golonganku orang yang menampar-nampar pipinya, merobek-robek baju dan berteriak-teriak seperti teriakan orang-orang di masa Jahiliyah.” .
Sedangkan yang memperingatinya dengan penuh kegembiraan, pesta, karnaval, sampai dengan makan-makan, maka mereka itu sama halnya dengan orang-orang Yahudi.
Menyambut 1 Muharram dengan menyakiti diri sendiri, kesedihan, dan ratapan adalah bentuk penyerupaan Syi’ah sedangkan yang memperingati dengan kegembiraan, pesta, karnaval, serta makan-makan adalah bentuk penyerupaan Yahudi.
Dalam Islam, haram hukumnya bagi seorang Muslim yang menyerupai suatu kaum: “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”. .
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: “Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang menyerupai selain kami.” .
Dalam Islam, hari raya besar itu hanya dua, yaitu hari raya Idul Fithri (1 Syawal) dan Idul Adha (10 Dzulhijjah). Sebagian ulama menyebut hari Jumat termasuk Hari Raya.
Jadi Islam tidak memperingati perayaan lainnya seperti kelahiran Nabi, tahun baru Islam, atau tahun baru lainnya. Juga tidak ada peringatan turunnya Al Qur’an atau yang menandakan Nabi melakukan peristiwa tertentu.
Anas radhiyallahu ‘anhu berkata: “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa jahiliyah.”
Maka beliau berkata, “Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main.”
“Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya Idul Fithri dan Idul Adha (hari Nahr).” (H.R. An Nasai no. 1556 dan Ahmad 3: 178, sanadnya shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim sebagaimana kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth).
Kalau dikatakan bahwa dua hari raya di atas (Idul Fithri dan Idul Adha) yang lebih baik, maka selain dua hari raya tersebut tidaklah memiliki kebaikan.
Sudah seharusnya setiap muslim mencukupkan dengan ajaran Islam yang ada, tidak perlu membuat perayaan baru selain itu. Karena Islam pun telah dikatakan sempurna, sebagaimana dalam ayat:
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (Q.S. Al Maidah: 3). Kalau ajaran Islam sudah sempurna, maka tidak perlu ada perayaan baru lagi.
Penulis : Wawan Idris
Sumber: https://muslim.or.id




