mhnews.id.- Nasib pertani garam di Indramayu masih harus tergantung pada cuaca dan musim, tidaklah heran jika mereka hampir tidak pernah dapat meningkatkan tarap hidupnya sebagai imbalan hasil jerih payah menambang bumbu masak vital ini.
Disebut tergatung pada musim karena ketika musim hujan, dipastikan harga garam akan naik tajam. Namun kenaikan harga yang tinggi ini tidak bisa dinikmati petani karena terbatasnya produksi. Petani sangat terbatas menambang garam ketika musim hujan dan cuaca mendung tanpa matahari.
Sebaliknya ketika musim kemarau, produksi garam melimpah. Akibatnya harga pun jatuh. Yang untung dalam tata niaga garam ini adalah para pemilik modal dan gudang. Mereka membeli garam petani semurah-murahnya pada saat panen melimpah (musim kemarau) untuk disimpan di gudang.
Lalu pada saat musim hujan, saat produksi garam petani menurun drastis, bahkan seringnya tidak pernah berproduksi mereka jual dengan harga sangat mahal. Keuntungan berlipat pun mereka dapatkan.
Salah seorang petani di sentra garam Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, Robedi, menyebutkan, harga garam di tingkat petani saat ini mencapai Rp 1.400,00 – Rp 1.500,00 per kilogram. Padahal biasanya, harga garam dibawah Rp 1.000,00 per kilogram.
‘’Harga garam saat ini tinggi sekali. Selain harga tinggi penjualan garam pun laris karena banyak permintaan. Para petani garam pun memilih langsung menjual garamnya dan tidak menyimpannya,” kata Robedi, Selasa (11/10).
Meski demikian, Robedi mengakui, petani garam tetap tidak bisa menikmati keuntungan dari tingginya harga garam tersebut. Pasalnya, produksi garam mereka saat ini rendah akibat singkatnya musim kemarau.
Robedi menjelaskan, dalam kondisi normal produktivitas garamnya semestinya bisa mencapai 100 ton per hektare. Namun saat ini, produktivitas garamnya baru pada kisaran 10 ton per hektare.
‘’Jadi ya walaupun harga mahal, petani garam tidak bisa menikmatinya karena produksi garamnya rendah sekali. Berbeda kalau harga tinggi dan produksi juga tinggi, pasti untung,’’ tukas Robedi.
Keluhan para petani garam ini diamini oleh Ketua Asosiasi Petani Garam (Apgasi) Jawa Barat, M. Taufik. Dia menyatakan, harga garam saat ini memang tinggi karena produksi garam petani terbatas.
Taufik menyebutkan, dalam kondisi normal, produktivitas garam di Jabar pada Oktober semestinya sudah mencapai 50 ton per hektare. Namun sepanjang musim garam 2022 ini, produktivitas garam baru menghasilkan sekitar lima ton per hektar. “Turun sampai 90 persen,’’ kata Taufik.
Taufik mengungkapkan, tingginya harga garam saat ini telah mendorong para petani garam untuk mempercepat masa panen mereka. Biasanya, garam dipanen dalam usia lebih dari seminggu di tambak. Namun saat ini, usia garam yang dipanen hanya berkisar dua sampai tiga hari.
‘’Petani garam memanfaatkan momen harga garam yang tinggi. Akibatnya, kualitas garam jadi rendah karena sebatas asal jadi (garam), saja,” ujar Taufik.
Penulis : Iir Sairoh
Editor : Wawan Idris




